Vaksinasi Kanker
Serviks
Diposkan oleh
Aidandi 19:50
Kanker
serviks di Indonesia menduduki peringkat pertama penyebab kematian wanita. Dan
sebenarnya, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Di dunia, kanker
serviks atau kanker leher rahim merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak
diderita wanita usia di atas 15 tahu. Sekitar 5000 wanita didiagnosis menderita
kanker serviks, dan setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker ini.
Di Indonesia, setiap satu jam seorang wanita meninggal karena kanker.
Menurut
dr Bramundito, SpOG, kanker serviks merupakan beban kesehatan, psikologi, dan
sosial bagi wanita penderita. Penyakit ini dapat menyerang semua wanita,
khususnya yang aktif secara seksual, tanpa memandang usia atau gaya hidupnya.
“Tetap ada faktor risiko yang potensial menyebabkan kanker serviks. Di
antaranya, melakukan hubungan seks di usia muda, sering berganti-ganti pasangan
seksual tanpa menggunakan kondom, sering menderita infeksi di daerah kelamin,
melahirkan banyak anak, dan kebiasaan merokok. Juga defisiensi vitamin A, C,
dan E.” ujarnya.
A.
Deteksi Dini
Kanker serviks berbeda dengan kanker
jenis lainnya. Pada kanker serviks, ada fase yang disebut prakanker yang dapat
dideteksi sejak dini. Jika segera mendapat pengobatan, angka kesembuhannya
hampir 100%. Kanker serviks stadium dini seringkali tidak menunjukkan gejala
atau tanda yang khas, bahkan tidak ada gejala sama sekali. Sedangkan, jika
terjadi gejala seperti perdarahan setelah berhubungan intim; keputihan atau
cairan encer dari vagina; mengalami perdarahan setelah menopause; keluar cairan
kekuningan yang berbau atau bercampur darah; nyeri panggul; atau tidak dapat
buang air kecil, maka kemungkinan besar sudah terjadi kanker serviks stadium
lanjut. “Maka, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan sedini mungkin baik dengan
Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat). Jangan menunggu sampai
ada keluhan,” ujar dr. Bramdito.Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai
kanker serviks dan penyebabnya, rendahnya kesadaran dan keengganan untuk
deteksi dini, menyebabkan sebagian besar (lebih dari 70%) pasien datang dalam
kondisi yang sudah parah dan sulit disembuhkan.
B. Vaksin HPV
Tidak banyak kanker yang diketahui
penyebabnya. Akan tetapi, penyebab kanker serviks sudah berhasil diketahui, yakni
Human Papilloma Virus (HPV). Kurang lebih 99,7% kanker serviks disebabkan oleh
HPV. Dengan diketahui penyebabnya, kanker serviks dapat dicegah atau diatasi.
Ada sekitar 100 jenis HPV yang telah
diidentifikasi, sebagian besar tidak berbahaya. Sebanyak 40 jenis dapat
ditularkan melalui hubungan seksual. Dari 40 jenis ini digolongkan menjadi dua
golongan, yaitu HPV berisiko tinggi (penyebab kanker) dan berisiko rendah. Ada
15 jenis yang menyebabkan kanker, di antaranya HPV 16 dan 18 yang merupakan
penyebab dari 70% kanker serviks di Asia Pasifik dan dunia. Cara pencegahan
terbaru adalah dengan vaksinasi, terutama yang menargetkan pada HPV 16 dan 18.
Vaksin akan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan
menghancurkan virus ketika masuk ke dalam tubuh, sebelum terjadi infeksi.
Vaksin sebaiknya dilakukan sejak masa remaja, yaitu sejak usia 10 tahun pada orang Indonesia dengan jadwal vaksinasi bulan ke-0, 1, dan 6. Pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa reproduktif dan belum terkontaminasi oleh virus HPV. Sehingga dengan vaksinasi, respons titer antibodi yang terbentu jauh lebih tinggi dibandingkan usia dewasa, menurut Karel Staa, MD.
Vaksin sebaiknya dilakukan sejak masa remaja, yaitu sejak usia 10 tahun pada orang Indonesia dengan jadwal vaksinasi bulan ke-0, 1, dan 6. Pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa reproduktif dan belum terkontaminasi oleh virus HPV. Sehingga dengan vaksinasi, respons titer antibodi yang terbentu jauh lebih tinggi dibandingkan usia dewasa, menurut Karel Staa, MD.
Vaksin ini dikalkulasi dapat memberi
pertahanan selama 5-6 tahun. Seperti vaksin pada umumnya, vaksin ini tidak
sepenuhnya memberi perlindungan 100% terhadap kanker serviks. Oleh karena itu,
vaksinasi bersama skrining serta usaha mengurangi faktor risiko dapat
mengurangi risiko terkena kanker serviks. Sekaligus dapat menurunkan jumlah
penderita kanker serviks di Indonesia.
Sumber:
Semijurnal Farmasi & Kedokteran, No. 52, Juni 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar