BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di Indonesia sejak tahun 1998
terjadi gejolak krisis multidimensi yang telah berdampak banyak terhadap segi kehidupan masyarakat Indonesia,
termasuk krisis ekonomi yang
mengakibatkan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sandang dan pangan sangat
rendah. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tingginya angka kejadian penyakit diantaranya
adalah tuberkulosis (TB). Apabila penyakit ini tidak diobati sampai tuntas akan
menimbulkan berbagai komplikasi, salah satu komplikasi dari infeksi TB ini yang
paling berbahaya apabila menyerang pada susunan saraf pusat atau yang biasa
disebut meningitis tuberkulosis.
Meningitis tuberkulosis
adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebro spinal, dan spinal
kolumna yang menyebabkan proses peradangan pada sistem saraf pusat (Suriadi,
2001 : 89) merupakan salah satu manifestasi dari penyakit TB yang disebabkan
oleh basil Mycobacterium tuberculosis
yang menyerang sistem saraf pusat. Meningitis pun harus diwaspadai insidensinya
seiring dengan meningkatnya angka penderita tuberkulosis. Karena diperkirakan
sekitar 1 sampai 10% dari seluruh kejadian infeksi tuberkulosis mengenai
susunan saraf pusat (SSP), baik berupa tuberkuloma pada parenkim otak maupun sebagai
meningitis (Arvanitaksis, 1998). Sedangkan menurut Lindsay (1997 : 474) angka
kejadian meningitis adalah 10% dari jumlah penderita.
Data yang diperoleh dari Rekam
Medik Ruang 19 A Perawatan Penyakit Saraf Wanita Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan
Sadikin Bandung dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.
TABEL 1
Profil Penyakit Di Ruang 19 A Perawatan Penyakit
Saraf Wanita Perjan RS.Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari - Juli 2005
No
|
Penyakit
|
Angka kejadian
|
%
|
Angka kematian
|
%
|
1
|
Stroke
|
176
|
57,32
|
38
|
21,59
|
2
|
SOL
|
46
|
14,98
|
4
|
8,69
|
3
|
Meningitis
|
23
|
7,49
|
9
|
39,13
|
4
|
Myelo radikulopati
|
21
|
6,84
|
0
|
0
|
5
|
Radikulopati
|
17
|
5,53
|
0
|
0
|
6
|
Epilepsi
|
16
|
5,21
|
2
|
12,5
|
7
|
Tetanus
|
3
|
0,97
|
3
|
100
|
8
|
Ensepalopati
|
2
|
0,65
|
0
|
0
|
9
|
Ensepalitis
|
2
|
0,65
|
2
|
100
|
10
|
Miastenia Gravis
|
1
|
0,32
|
1
|
100
|
Jumlah
|
307
|
100%
|
Sumber : Rekam Medik Ruang 19 A Perawatan
Penyakit Saraf Wanita Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Menurut tabel diatas penyakit
meningitis berada pada urutan ke 3 setelah stroke dan SOL (space occupying lession). Dengan jumlah penderita 23 orang (7,49%) yang menderita meningitis. Walaupun persentasinya
tidak sebanyak stroke 57,32% namun angka ini terus menunjukan peningkatan
dengan persentase kematian yang paling tinggi yaitu mencapai 39,13% (Medical Record Ruang 19A RSHS. Bandung).
Selain itu penyakit meningitis
dapat menimbulkan gangguan yang kompleks terhadap sistem tubuh yang lain,
misalnya pada sistem pernafasan, kardivaskuler, pencernaan, perkemihan dan
muskuloskeletal, yang dapat pula menimbulkan komplikasi akut dan resiko
kematian. Disamping dampak terhadap sistem tubuh meningitis pun dapat merubah
pola hidup seseorang karena tidak jarang kasus meningitis meninggalkan gejala
sisa berupa kecacatan seperti : ketulian, gangguan penglihatan, dan kelumpuhan.
Berdasarkan angka kejadian dan
dampak penyakit meningitis tuberkulosis sebagai konsekuensi dari meningkatnya
angka penderita TB dan kompleknya masalah yang ditimbulkan akibat infeksi
meningitis tuberkulosis, serta dampaknya terhadap kehidupan baik fisik, sosial,
dan ekonomi klien, maka penulis merasa
tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan meningitis tuberkulosis,
untuk dijadikan sebagai bahan penulisan karya tulis ilmiah dengan judul " ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN NY. A DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : MENINGITIS
TUBERKULOSIS DI RUANG 19 A PERAWATAN PENYAKIT SARAF WANITA PERJAN RUMAH SAKIT
DR. HASAN SADIKIN BANDUNG".
B.
TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memperoleh
pengalaman secara nyata dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara
langsung dan komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual pada klien
dengan gangguan sistem persarafan : meningitis tuberkulosis melalui pendekatan
proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Secara
khusus penyusunan karya tulis ilmiah ini bertujuan agar penulis dapat :
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan
sistem persarafan akibat meningitis tuberkulosis.
b. Membuat perencanaan pada klien dengan gangguan
sistem persarafan akibat meningitis tuberkulosis.
c. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persarafan akibat meningitis tuberkulosis.
d. Menilai keberhasilan atau evaluasi dari hasil asuhan
keperawatan yang telah diberikan.
e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan sistem persarafan : meningitis tuberkulosis.
C.
METODE PENULISAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN
DATA
1. Metode
Metode
yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode deskriptif
analitik dalam bentuk studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan.
2. Tehnik Pengumpulan Data
Sedangkan
tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah :
a.
Wawancara.
Menggunakan komunikasi lisan meliputi
auto anamnesa yang didapat langsung dari klien atau allo anamnesa yang didapat
dari keluarga klien.
b.
Observasi.
Dilakukan dengan melihat kondisi klien
secara fisik, mengamati klien baik dari sikap secara psikologis.
c.
Pemeriksaan Fisik.
Dilakukan secara “ head to toe ”
meliputi teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
d.
Studi Dokumentasi.
Dengan melihat hasil laboratorium dan
terapi, serta melihat catatan perkembangan kesehatan klien selama dirawat di
rumah sakit yang terlampir dalam status klien.
e.
Studi Kepustakaan.
Dengan melihat konsep dan teori yang
berhubungan dengan asuhan keperawatan klien dengan meningitis tuberkulosis.
D.
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
|
:
|
Pendahuluan,
berisi tentang latar belakang masalah meningitis tuberkulosis, tujuan, metode
dan sistematika penulisan
|
BAB II
|
:
|
Tinjauan
Teori, terdiri dari konsep dasar penyakit yang berisi pengertian, anatomi dan fisiologi selaput
otak , etiologi, manifestasi klinik, patofisiologi, klasifikasi meningitis, dampak
terhadap sistem tubuh lain, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medik.
konsep dasar proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
|
BAB III
|
:
|
Tinjauan Kasus
dan Pembahasan, terdiri dari asuhan keperawatan pada Ny. A dengan Gangguan
Sistem Persarafan : Meningitis Tuberkulosis di Ruang 19A Perawatan Penyakit
Saraf Wanita Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, meliputi pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Selain itu juga berisi tentang
pembahasan masalah dan kesenjangan yang dihadapi selama melakukan asuhan
keperawatan serta alternatif pemecahan masalah.
|
BAB IV
|
:
|
Kesimpulan dan
Rekomendasi, berisi uraian-uraian kesimpulan dari penerapan langkah-langkah
proses keperawatan yang terdiri dari
pengkajian hingga evaluasi
|
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep
Dasar Penyakit
1.
Pengertian
a. Meningitis
Tuberkulosis
Meningitis tuberkulosis adalah infeksi
pada meningen yang disebabkan oleh basil tahan asam Mycobacterium tuberculosis (Gilroy, 2000).
Suriadi (2001: 89) mengatakan
meningitis tuberkulosis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal
dan spinal kolumna yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat.
Menurut Arief Mansyur, dkk (2000 : 11) meningitis
tuberkulosis adalah penyebaran tuberkulosis primer dengan fokus infeksi
ditempat lain.
Sedangkan pengertian meningitis
tuberkulosis menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi,
1996 : 181) adalah komplikasi infeksi primer dengan atau tanpa penyebaran
milier.
Dari keempat pengertian diatas
dapat disimpulkan bahwa meningitis tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang
mengenai selaput otak, parenkim otak dan pembuluh darah otak, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan merupakan
infeksi sekunder sebagai akibat penyebaran infeksi tuberkulosis ditempat lain
umumnya paru-paru.
b. Tuberkulosis
(TB)
TB adalah penyakit infeksi
menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis, kuman tersebut biasanya masuk kedalam
tubuh manusia melalui udara (pernafasan) kedalam paru-paru, kemudian kuman
tersebut menyebar dari paru-paru ke organ tubuh yang lain melalui penyebaran
darah, kelenjar limfe, saluran pernafasan, penyebaran langsung ke organ tubuh
lain (Sylvia Anderson 1995 : 753)
2.
Anatomi Fisiologi
a. Meningen
Meningen adalah ketiga lapisan
jaringan ikat non neural yang menyelubungi otak dan medulaspinalis, berindak
sebagai peredam syok atau “syok absosber”
dan berisikan cairan serebrospinalis. Cairan serebospinalis ditemukan pada
sistem ventrikel dan rongga sub arakhnoid. Ketiga lapisan meningen terdiri dari
:
1)
Duramater atau Dura (pakimenings)
Duramater
merupakan lapisan terluar meningen, berupa membran yang padat, kuat dan tidak
lentur. Berlapis dua sekitar otak dan berlapis satu sekitar medulla spinalis.
Lapisan luar bertindak sebagai periosteum dan terikat kuat pada tulang. Lapisan
dalam terdapat dalam rongga subdural. Lapisan dalam duramater terpisah dari
lapisan luar tempat terbentuknya sinus dura.
2)
Arakhnoid
Arakhnoid
adalah lapisan tengah dari meningen yang avaskular, rapuh, tipis dan
transparan. Seperti halnya dengan duramater, menyebrangi sulki dan hanya menuju
kedalam fisura-fisura utama saja. Dari membran arakhnoid banyak trabekula halus
menjurus kearah pia sehingga memberi gambaran sebagai sarang laba-laba.
Lapisan
luar arakhnoid terdiri dari sel yang menyerupai endotel disebut sebagai
meningotelial atau sel arakhnoid. Inti sel-sel tersebut tersusun dalam lapisan tunggal, ganda atau multipel
menghadap kearah rongga sub dural. Lapisan dalam arakhnoid dan trabekula
ditutup oleh sel mesotelial yang dapat
memberikan respon terhadap berbagai rangsangan dan dapat membentuk fagosit.
Granulasi
arakhnoid adalah proyeksi pia-arakhnoid yang masuk kedalam sinus sagitalis
superior. Granulasi ini disebut juga badan pacchioni,
masing-masing terdiri dari sejumlah villi arakhnoid yang berfungsi sebagai katup satu arah yang
melewatkan bahan-bahan dari cairan serebrospinal masuk kedalam sinus-sinus.
3)
Piamater atau Pia (Leptomenings)
Piamater
adalah lapisan meningen terdalam yang melekat erat dengan jaringan otak dan
medulla spinalis, yang mengikuti setiap kontur (sulki dan fisura) sambil
membawa pembuluh darah kecil yang memberi makanan pada jaringan saraf
dibawahnya.

Gambar 1. Anatomi meningen otak
Sumber : Van de Graff, Kent. M. (1984)
b.
Rongga Sub Arakhnoid
Rongga sub arakhnoid merupakan rongga leptomeningeal yang terisi cairan
serebrospinal. Semua pembuluh darah, saraf otak serta medulla spinalis melewati
cairan tersebut, sehingga bilamana terjadi infeksi pada rongga ini, maka
pembuluh darah dan saraf dapat terkena proses peradangan. Arteritis dan
flebitis dapat menyebabkan iskemi atau nekrosis jaringan otak.
Rongga sub
arakhnoid tidak berhubungan dengan rongga sub dural, karena itu leptomeningitis
tidak menyebar kedalam rongga sub dural kecuali pada meningitis oleh haemofilus
influenza.
c.
Sisterna Rongga Sub Araknoid
Rongga sub arakhnoid yang mengelilingi otak dan
medulla spinalis memiliki variasi-variasi setempat. Pada dasar otak dan sekitar
batang otak, pia dan arakhnoid memisah dan membentuk beberapa rongga besar yang
disebut sisterna sub araknoid.
Tiga sisterna pada aspek ventral batang otak :
Ø
Sisterna khiasmatika yang berada
didaerah khiasma optika.
Ø
Sisterna interpendunkularis yang berada
di fosa interpedunkularis dari mesensefalon.
Ø
Sisterna pontin yang berada pada
pertemuan pons dengan medula atau “Pons medullary junction”.
Dua sisterna di aspek posterior batang otak :
Ø
Sisterna serebromedularis (sisterna
magna) yang merupakan salah satu sisterna terbesar, sisterna ini berada
diantara pleksus khoroid medulla dan serebelum. Foramina ventrikel IV membuka
kedalam sisterna ini.
Ø
Sisterna superior (sisterna ambiens)
sisterna ini mengelilingi permukaan superior dan lateral mesensefalon didalam
sisterna ini ditemukan vena serebri magna, arteri serebri posterior dan
serebeli superior
d.
Sistem Ventrikel
Sistem
ventrikel merupakan suatu seri rongga-rongga di dalam otak yang saling
berhubungan, dilapisi ependima dan berisi cairan serebrospinal yang dihasilkan
dari darah oleh pleksus khoroid.
Rongga-rongga dalam sistem ini terdiri dari sepasang
venterikel lateralis (kiri dan kanan), ventrikel III dan ventrikel IV. Kedua
rongga ini dihubungkan oleh aquaduktus silvii.
Kedua ventrikel lateralis berada di dalam hemisfer
serebri dan masing-masing dihubungkan dengan ventrikel III melalui foramen
interventrikularis dari monro. Setiap ventrikel lateralis terdiri dari 4 bagian
yaitu :
Ø Kornu
anterior
Ø Sela
media
Ø Kornu
inferior atau temporal
Ø Kornu
posterior
Ventrikel ventrikel III adalah suatu rongga
ventrikel tipis di garis tengah, diantara pasangan ventrikel lateralis.
Ventrikel IV berhubungan dengan rongga sub arakhnoid melalui kedua foramina
dari luscka dan foramina magendi. Kedua foramen dari luscka terletak dalam
sudut pons dan medulla. Foramen magendi terletak sebelah belakang medulla dan
menghadap sisterna magna.
Setiap ventrikel mempunyai pleksus khoroid, yang
paling besar adalah pleksus khoroid ventrikel lateralis.
e.
Pleksus Khoroid dan Cairan Serebrospinal
1)
Pleksus khoroid
Pleksus
khoroid merupakan anyaman kaya dari pembuluh-pembuluh darah piamater yang
menjorok kesetiap rongga ventrikel, membentuk filter semi permeabel antara darah
arteri dan cairan serebrospinal. Setiap pleksus khoroid diliputi oleh satu
lapisan epitel ependima.
Tela
khoroidea dari ventrikel lateralis adalah suatu membran tipis seperti jaring
laba-laba yang melalui foramen interventrikularis, berhubungan langsung dengan
pleksus khoroid ventrikel III. Tela ini dibentuk oleh invaginasi ependima oleh
lipatan-lipatan vaskular.
2)
Cairan serebrospinal
Cairan
serebrospinal adalah filtrat darah yang jernih tidak berbau dan hampir bebas
protein. Cairan serebrospinal dibentuk di ventrikel-ventrikel dan beredar
didalam rongga sub arakhnoid.
Fungsi cairan serebrospinal adalah menunjang dan membantali susunan saraf
pusat terhadap trauma.
f.
Peredaran Darah Otak
1)
Peredaran darah arterial
Suplai
peredaran darah arterial kestruktur-strukur intra kranial pada dasarnya berasal
dari cabang-cabang kedua arteri karotis interna dan kedua arteri vertebralis.
a)
Arteri karotis interna
Arteri
karotis interna keluar dari percabangan karotis komunis leher. Pembuluh darah
ini naik menuju basis kranii, membelah sebagai suatu pembuluh bentuk sigmoid di
dalam sinus kavernosus.
Arteri karotis interna hanya memberi cabang di rongga tengkorak, terdiri
dari :
(1)
Arteri optalmika
Arteri ini mempunyai cabang
penting yaitu arteri sentralis retinae yang berjalan ditengah-tengah nervus
optikus dan berakhir diretina.
(2)
Arteri khoroidalis anterior
Arteri khoroidalis anterior mengikuti traktus
optikus sampai pada ketinggian korpus genikulatum lateralis dan kemudian
menjadi bagian dari pleksus khoroid ventrikel lateralis.
Pembuluh darah ini juga memberi cabang-cabang ke
pedunkulus serebri, kapsula interna, nukleus kaudatus, hipokampus dan traktus
optikus.
(3)
Arteri serebri anterior dan media
Kedua arteri ini merupakan cabang terminal dari
arteri karotis interna. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada lobus
frontalis. Didalam fisura longitudinalis serebri dapat ditemukan arteri
komunikans anterior. Cabang-cabang arteri serebri anterior berjalan menuju sisi
medial lobus frontalis dan parietalis, substansia perforata anterior, septum
pellusidum dan sebagian dari korpus kalosum. Arteri striata medialis memberi
darah pada nukleus kaudatus, putamen dan bagian anterior kapsula interna.Arteri
serebri media memberi cabang-cabang kesisi lateral lobus temporal dan parietal.
Arteri striata lateralis memperdarahi ganglia
basalis dan kapsula interna. Arteri komunikans posterior bersatu dengan ramus
serebri posterior arteri basilaris. Dalam perjalanannya memberi cabang ke
kapsula interna dan talamus
b)
Arteri vertebralis
Arteri vertebralis adalah cabang-cabang dari arteri
sub klavia. Cabang-cabangnya adalah arteri spinalis anterior dan posterior
serta arteriae serebelaris inferior posterior.
Arteri basilaris dibentuk oleh kedua gabungan arteri
vetrebralis, berjalan pada aspek ventral pons. Cabang-cabangnya meliputi
arteriae pontin, sereberalis inferior anterior, labirintin, serebralis superior
dan sereberalis posterior.
Arteri terakhir memperdarahi sisi medial dan
inferior lobus oksipitalis dan temporalis serta cabang-cabang khoroidal
posterior ke pleksus khoroid ventrikel III dan ventrikel lateralis.
c)
Sirkulus willisi
Sirkulus willisi dibentuk oleh arteri-arteri
komunikan anterior dan posterior serta bagian proksimal arteri-arteri serebri
anterior, media dan posterior.
Fungsi sirkulus willisi memungkinkan suplai darah
yang adekuat ke otak bilamana timbul oklusi arteri karotis atau vertebralis.
Banyak arteri keluar dari lingkaran ini, masuk ke substansia otak dan
arteri-arteri ini sangat penting oleh karena selain berkaliber kecil sehingga
mudah tersumbat, juga merupakan “end
artery” tanpa peredaran kolateral dan memperdarahi daerah-daerah vital.
2)
Peredaran darah vena
Peredaran darah vena tidak berperan besar dalam meningitis tuberkulosis.
Terdiri dari vena serebral internal dan eksternal. Tempat berakhirnya vena-vena
otak ini di sinus-sinus duramater.
3.
Etiologi
Penyakit meningitis tuberkulosis
disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis humanus, sedangkan menurut peneliti yang lain dalam literatur
yang berbeda meningitis Tuberkulosis disebabkan oleh dua micobacterium yaitu Mycobacterium tubeculosis dan Mycobacterium bovis yang biasanya
menyebabkan infeksi pada sapi dan jarang pada manusia.
Mycobacterium
tuberculosis merupakan basil yang berbentuk batang, berukuran 0,2-0,6mm x 1,0-10mm, tidak
bergerak dan tidak membentuk spora. Mycobacterium
tuberculosis bersifat obligat aerob,
hal ini menerangkan predileksinya pada jaringan yang oksigenasinya tinggi
seperti apeks paru, ginjal dan otak. Mycobacterium
tidak tampak dengan pewarnaan gram tetapi tampak dengan pewarnaan
Ziehl-Neelsen. Basil ini bersifat tahan asam, artinya tahan terhadap pewarnaan carbolfuchsin yang menggunakan campuran
asam klorida-etanol. Sifat tahan asam ini disebabkan karena kadar lipid yang
tinggi pada dinding selnya. Lipid pada dinding sel basil Mycobacterium tuberculosis meliputi hampir 60% dari dinding selnya,
dan merupakan hidrokarbon rantai panjang yang disebut asam mikolat. Mycobacterium tuberculosa tumbuh lambat
dengan double time dalam 18-24 jam, maka
secara klinis kulturnya memerlukan waktu 8 minggu sebelum dinyatakan negatif.
4.
Manifestasi Klinik
Meningitis tuberkulosis
umumnya memiliki onset yang perlahan.
Terdapat riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis, biasanya memiliki TB
aktif atau riwayat batuk lama, berkeringat malam dan penurunan berat badan
beberapa hari sampai beberapa bulan sebelum gejala infeksi susunan saraf pusat
muncul.
Gejala
meningitis tuberkulosis sangat bervariasi, gejala awal biasanya mirip dengan
infeksi umum lainnya yaitu berupa kelemahan umum (malaise), demam yang tidak
terlalu tinggi, nyeri kepala yang hilang timbul dan muntah. Setelah gejala awal
berlangsung selama sekitar 2 minggu timbul gejala nyeri kepala yang persisten
dan nyeri tengkuk yang berhubungan dengan rangsang meningeal, timbul
tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial dan defisit neurulogik fokal
(parese pada nervus kranial dan hemiparese). Inflamasi arteri pada basis kranii
disertai penyempitan dan pembentukan trombus pada lumennya menimbulkan iskemik
dan infark serebri dengan berbagai defisit neurologi sebagai akibatnya. Saraf
kranial II, III, IV, VI, VII dan VIII sering mengalami kompresi oleh eksudat yang
kental. Pada stadium lanjut terjadi gerakan involunter, hemiplegi, kesadaran
yang semakin menurun dan terjadi hidrosefalus.
Ensefalopati tuberkulosis secara klinis memberikan
sindrom berupa kejang, stupor atau koma, gerakan involunter, paralise, deserebrasi
atau rigiditas dengan atau tanpa tanda klinis meningitis atau kelainan cairan
serebrospinalis.
5.
Patofisiologi
Meningitis tuberkulosis pada umumnya sebagai
penyebaran infeksi tuberkulosis primer ditempat lain. Biasanya fokus infeksi
primer di paru-paru. Tuberkulosis secara primer merupakan penyakit pada
manusia. Reservoir infeksi utamanya adalah manusia, dan penyakit ini ditularkan
dari orang ke orang terutama melalui partikel droplet yang dikeluarkan oleh
penderita tuberkulosis paru pada saat batuk. Partikel-partikel yang mengandung Mycobacterium tuberculosis ini dapat
bertahan lama di udara atau pada debu rumah dan terhirup masuk kedalam
paru-paru orang sehat. Pintu masuk infeksi ini adalah saluran nafas sehingga
infeksi pertama biasanya terjadi pada paru-paru. Transmisi melalui saluran
cerna dan kulit jarang terjadi.
Droplet yang
terinfeksi mencapai alveoli dan berkembang biak dalam ruang alveoli, makrofag
alveoli maupun makrofag yang berasal dari sirkulasi. Sejumlah kuman menyebar
terutama ke kelenjar getah bening hilus. Lesi primer pada paru-paru berupa lesi
eksudatif parenkimal dan kelenjar limfenya disebut kompleks “Ghon”. Pada fase awal kuman dari
kelenjar getah bening masuk kedalam aliran darah sehingga terjadi penyebaran
hematogen.
Dalam waktu 2-4 minggu setelah terinfeksi,
terbentuklah respon imunitas selular
terhadap infeksi tersebut. Limfosit-T distimulasi oleh antigen basil ini untuk
membentuk limfokin, yang kemudian mengaktivasi sel fagosit mononuklear dalam aliran darah. Dalam
makrofag yang diaktivasi ini organisme dapat mati, tetapi sebaliknya banyak
juga makrofag yang mati. Kemudian terbentuklah tuberkel terdiri dari makrofag,
limfosit dan sel-sel lain mengelilingi jaringan nekrotik dan perkijuan sebagai
pusatnya.
Setelah infeksi pertama dapat terjadi dua
kemungkinan, pada orang yang sehat lesi akan sembuh spontan dengan meninggalkan
kalsifikasi dan jaringan fibrotik. Pada orang dengan daya tahan tubuh yang
rendah, penyebaran hematogen akan menyebabkan infeksi umum yang fatal, yang
disebut sebagai tuberkulosis millier diseminata. Pada keadaan dimana respon
host masih cukup efektif tetapi kurang efisien akan timbul fokus perkijuan yang
besar dan mengalami enkapsulasi fibrosa tetapi menyimpan basil yang dorman.
Klien dengan infeksi laten memiliki resiko 10% untuk berkembang menjadi tuberkulosis
aktif. Reaktivasi dari fokus perkijuan akan terjadi bila daya tahan tubuh host
menurun, maka akan terjadi pembesaran tuberkel, pusat perkijuan akan melunak
dan mengalami pencairan, basil mengalami proliferasi, lesi akan pecah lalu
melepaskan organisme dan produk-produk antigen ke jaringan disekitarnya.
Apabila hal-hal yang dijelaskan di atas terjadi pada susunan saraf pusat maka
akan terjadi infeksi yang disebut meningitis tuberkulosis.
Fokus tuberkel yang berlokasi dipermukaan otak yang
berdekatan dengan ruang sub arakhnoid dan terletak sub ependimal disebut
sebagai “Focus Rich”. Reaktivasi dan
ruptur dari fokus rich akan menyebabkan pelepasan basil Tuberkulosis dan
antigennya kedalam ruang sub arakhnoid atau sistem ventrikel, sehingga terjadi
meningitis tuberkulosis.
Patofisiologi
Meningitis Tuberkulosis
pada permukaan otak, selaput otak, sumsum
tulang belakang
Terbentuk eksudat
Eksudat
yang terbentuk terdiri dari 2 lapisan :
- lapisan luar mengandung fibrin dan
leukosit PMN
Tombosis serta organisasi eksudat perineural
yang fibrinopurulen. Kelainan nervus kranial II, III, IV, VI, VII, VIII
Organisasi di ruang sub arakhnoid
superfisial yang dapat menghambat aliran dan absorpsi LCS
Hidrosefalus komunikan
Bagan 1
Patofisiologi
6.
Klasifikasi
Menurut Smeltzer. S.C and
Brenda. G. Bare (2001 : 2175) klasifikasi meningitis dibagi menjadi 3 tipe
utama yaitu meningitis asepsis, sepsis dan tuberkulosis.
a.
Meningitis asepsis mengacu pada salah
satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh
abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah di ruang sub arakhnoid.
b.
Meningitis sepsis menunjukan meningitis
yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus,stafilokokus, atau
basilus influenza.
c.
Meningitis tuberkulosis disebabkan oleh
bakteri mikobakterium tuberkulosis.
Sedangkan menurut Arief Mansyur (2000 : 11) berdasarkan perubahan
yang terjadi pada cairan otak, meningitis dibagi dalam 2 golongan yaitu :
a.
Meningitis serosa adalah radang selaput
otak, arakhnoid, dan piamater yang disertai cairan otak yang jernih penyebab
tersering adalah Mycobacterium
tuberculosis, penyebab lain adalah virus, toxoplasma dan ricketsia.
b.
Meningitis purulenta adalah radang
bernanah arakhnoid dan piamater yang meliputi otak dan medulaspinalis. Penyebabnya
antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitidis
(meningokok), Streptococcus haemoliticus, Staphylococcus coli, Klebsiella
pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa.
Klasifikasi atas dasar gejala klinik
yang dapat meramalkan prognosis penyakit menurut Medical Research Council of Great Britain sebagai berikut :
Stadium I : Klien
menunjukan sedikit atau tanpa gejala klinis meningitis,
tanpa parese, dalam keadaan umum yang baik dan kesadaran yang penuh.
Stadium II : Klien
dengan keadaan diantara stadium I dan III
Stadium III : Klien
tampak sakit berat, kesadaran stupor atau koma dan terdapat parese yang berat (hemiplegi atau
paraplegi).
7.
Dampak Meningitis Terhadap Sistem Tubuh
Lain
a.
Sistem Pernafasan
Penderita meningitis dapat mengalami kerusakan saraf pengatur pernafasan
sehingga kontrol sistem pernafasan tidak adekuat. Pola nafas berubah sehingga
pengambilan oksigen dari atmosfir dapat berkurang, yang berakhir dengan kondisi
hipoksia. Kerusakan vaskular pada jaringan susunan saraf pusat akan menghambat
proses transportasi oksigen sehingga otak kekurangan oksigen yang berdampak terjadinya kematian sel-sel
jaringan otak, distres pernafasan terjadi akibat penekanan pusat pernafasan di
medulla oblongata oleh peningkatan tekanan intrakranial.
b.
Sistem Kardiovaskular
Proses peradangan pada meningen menyebabkan perubahan pada jaringan selaput
otak sehingga menghambat sirkulasi darah. Gangguan pola nafas menyebabkan kadar
oksigen darah berkurang sehingga perfusi jaringan menurun yang ditandai dengan
adanya sianosis pada beberapa bagian tubuh tekanan darah meningkat atau menurun
dan frekuensi nadi meningkat.
c.
Sistem Pencernaan
Terjadi oedema serebral mengakibatkan kompensasi tubuh untuk menangani dengan
mengeluarkan steroid adrenal melalui perangsangan dari hipotalamus. Hal ini
berpengaruh terhadap peningkatan sekresi asam lambung yang menyebabkan hiper asiditas
yang akan menimbulkan mual, muntah dan nafsu makan berkurang. Pada kondisi yang
kronis keadaan ini akan menimbulkan iskemi mukosa lambung dan kerusakan barier
mukosa sehingga terjadilah perdarahan lambung (stress ulcer) maka pada kondisi tersebut asupan nutrisi klien tidak
adekuat yang menimbulkan klien kurang nutrisi.
d. Sistem Perkemihan
Pada sistem urinaria terjadi retensi urine dan
inkontinensia urine. Pada kondisi lebih lanjut akan
terjadi albuminuria karena proses katabolisme terutama jika dalam kondisi kekurangan
kalori protein (KKP).
e.
Sistem Persarafan
Proses peradangan meningen dapat menimbulkan peningkatan tekanan
intrakranial, dimana akan terjadi kerusakan saraf pusat pengontrol kesadaran
yang dapat menimbulkan penurunan kesadaran dan terjadi penekanan pada saraf
pusat pernafasan yang dapat mengakibatkan pola nafas tidak efektif. Pada saraf
kranial yaitu nervus vagus yang mengakibatkan
penurunan reflek menelan, nervus optikus yang dapat mengganggu fungsi visual,
kerusakan nervus III, IV, VI yang dapat mengganggu pergerakan bola mata,
kerusakan nervus VIII yang dapat mengganggu fungsi pendengaran. Pada
proses peradangan akan menimbulkan respon nyeri yang akan merangsang korteks
sesebri dan dalam keadaan lanjut dapat menimbulkan iritasi meningen yang
ditandai dengan adanya kaku kuduk, kernig positif, brudzinski I dan II, serta
laseque positif.
f. Sistem muskuloskeletal
Proses
inflamasi pada susunan saraf menimbulkan berbagai hambatan dalam perangsangan
neuromuskuler sehingga dapat timbul kelemahan otot-otot dan terjadi paralise.
Hal ini memungkinkan klien tidak dapat melakukan aktifitas gerak tubuhnya
secara optimal bahkan terjadinya kontraktur dapat memperberat kondisi.
g. Sistem Integumen
Peningkatan metabolisme mengakibatkan peningkatan suhu tubuh sehingga
timbul demam, yang dapat meningkatkan kebutuhan cairan, selain itu klien dengan
meningitis seringkali terjadi penurunan kesadaran sehingga klien harus
berbaring lama di tempat tidur dan dapat terjadi gangguan integritas kulit
sebagai dampak dari berbaring yang lama.
8.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada meningitis tuberkulosis
meliputi pemeriksaan Rontgent thorax, CT-scan, MRI.
Pada klien dengan meningitis tuberkulosis umumnya
didapatkan gambaran tuberkulosis paru primer pada pemeriksaan rontgent thoraks,
kadang-kadang disertai dengan penyebaran milier dan kalsifikasi. Sedangkan pada
pemeriksaan CT-scan dan MRI dapat terlihat adanya hidrosefalus, inflamasi
meningen dan tuberkoloma. Gambaran rontgent thoraks yang normal tidak menyingkirkan
diagnosa meningitis tuberkulosis.
b.
Tes Tuberkulin
Tuberkulin hanya mendeteksi reaksi hipersensitifitas
lambat, tidak menandakan adanya infeksi aktif
sehingga penggunaannya untuk mendiagnosis infeksi aktif dan meningitis
tuberkulosis masih kurang sensitif. Namun pemeriksaan tuberkulin yang positif
pada anak memiliki nilai diagnostik, sementara pada orang dewasa hanya
menandakan adanya riwayat kontak dengan antigen tuberkulosis, dan dapat
memberikan arah untuk pemeriksaan selanjutnya.
c.
Cairan Serebrospinal
Pemeriksaan cairan
serebrospinal merupakan diagnostik yang efektif untuk mendiagnosis meningitis tuberkulosis.
Gambaran cairan serebrospinal yang karakteristik pada meningitis
tuberculosis adalah:
1)
Cairan jernih sedikit kekuningan atau xantocrom.
2)
Pleositosis yang moderat biasanya antara
100-400 sel/mm3 dengan predominan limfosit.
3)
Kadar glukosa yang rendah 30-45 mg/dL atau
kurang dari 50% nilai glukosa darah.
4)
Peningkatan kadar protein.
d.
Bakteriologi
Identifikasi basil tuberkulosis pada cairan
serebrospinal memiliki akurasi yang sangat tinggi hingga 100% dalam mendiagnosis
meningitis tuberkulosis. Untuk mendiagnosis basil tersebut dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan apus langsung BTA dengan metode Ziehl-Neelsen dan
dengan cara kultur pada cairan serebrospinal.
e.
Pemeriksaan Biokimia
Pemeriksaan ini untuk mengukur sifat tertentu dari mycobacterium atau respon tubuh
penderita terhadap mycobacterium.
Yang tergolong pemeriksaan biokimia antara lain:
1) Bromide Partition Test (BPT)
2) Adenosine Deaminase Activity (ADA)
3) Tuberculostearic Acid
f.
Tes Immunologis
Yang mendeteksi antigen atau antibody mikobakterial
dalam cairan serebrospinal, metoda yang sering digunakan dalam tes imunologis
antara lain:
1)
ELISA (enzym linked immuno sorbent assay)
2)
Polymerase
Chain Reaction (PCR)
9.
Penatalaksanaan Medik
Penatalaksanaan meningitis tuberkulosis
terdiri dari:
a.
Perawatan umum
Perawatan penderita meliputi berbagai aspek yang
harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, antara lain kebutuhan cairan dan
elektrolit, kebutuhan nutrisi, posisi klien, perawatan kandung kemih, dan
defekasi serta perawatan umum lainnya sesuai dengan kondisi klien.
b.
Kemoterapeutik dengan obat anti tuberkulosis
Tujuan pengobatan terhadap penderita tuberkulosis
adalah menyembuhkan penderita dari penyakit tuberkulosis yang dideritanya, mencegah
kematian akibat tuberkulosis, mencegah terjadinya relaps, mencegah penularan
dan sekaligus mencegah terjadinya resistensi terhadap obat anti tuberkulosis
(OAT) yang diberikan.
Prinsip pengobatan meningitis tuberkulosis
tidak banyak berbeda dengan terapi bentuk tuberkulosis yang lain. Syarat
terpenting adalah bahwa pilihan OAT harus dapat menembus sawar darah otak dalam
konsentrasi yang cukup untuk mengeliminir basil intra dan ekstraselular.
Beberapa obat yang biasa digunakan untuk meningitis tuberkulosis adalah :
1)
Isoniazida (INH) diberikan dengan dosis
400 mg / hari.
2)
Rifampisin, diberikan dengan dosis
450-600 mg / hari.
3)
Pyrazinamid, diberikan dengan dosis 1500
mg / hari.
4)
Ethambutol, diberikan dengan dosis 25 mg
/ kg BB / hari sampai dengan 1500 mg / hari.
5)
Streptomisin, diberikan intra muskular
selama 3 bulan dengan dosis 30-50 mg / kg BB / hari.
6)
Kortikosteroid, biasanya digunakan
dexametason secara intra vena dengan dosis 10 mg setiap 4-6 jam, pemberian
dexametason ini terutama jika terdapat oedema otak, apabila keadaan membaik
maka dosis dapat diturunkan secara bertahap.
Efek samping OAT
(a)
Isoniazid (H)
Efek samping berat yaitu terjadi hepatitis dan terjadi pada kira-kira 0,5%
dari kasus. Bila terjadi maka pengobatan dihentikan, dan setelah pemeriksaan
faal hati kembali normal pengobatan dapat dilaksanakan kembali
Efek samping ringan berupa
(1)
Tanda-tanda keracunan saraf tepi,
kesemutan, anastesia dan nyeri otot
(2)
Kelainan yang menyerupai syndroma pellagra
(3)
Kelainan kulit yang bervariasi antara
lain gatal-gatal
(b)
Rifampisin (R)
Efeksamping berat jarang terjadi
seperti : sesak nafas yang kadang-kadang disertai kollaps atau syok, anemia hemolitik, purpura dan gagal ginjal
Efek samping ringan seperti : gatal-gatal, kemerahan, demam, nyeri tulang,
nyeri perut, mual muntah dan kadang-kadang diare.
(c)
Pyrazinamid (Z)
Efek samping utama adalah hepatitis, dapat terjadi nyeri sendi dan kadang-kadang
serangan penyakit gout.
(d)
Ethambutol (E)
Dapat menyebabkan gangguan penglihatan, berkurangnya ketajaman penglihatan,
kabur dan buta warna merah dan hijau.
B.
Konsep Asuhan
Keperawatan Meningitis
Dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada klien yang mengalami gangguan sistem persarafan, perawat
dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, karena tidak jarang kliennya
mengalami penurunan kesadaran, sehingga perawat bekerja sepihak. Walaupun
kondisinya demikian perawat tetap harus menggunakan metoda pendekatan pemecahan
masalah (problem solving) melalui
proses keperawatan.
Proses keperawatan yaitu
serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan dan
melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara
kesehatan secara optimal.tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara
komprehensif yang saling berkesinambungan dan berkaitan satu sama lain dari
mulai pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1.
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam
proses keperawatan dimana pada tahap ini perawat melakukan pengumpulan data
yang diperoleh dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik, laporan teman sejawat,
catatan keperawatan atau tim kesehatan lainnya. Data yang diperoleh kemudian dianalisa
untuk mendapatkan diagnosa keperawatan yang merupakan masalah klien. Tahap
pengkajian ini terdiri dari :
a.
Pengumpulan data
1) Identitas
a)
Identitas klien
Identitas
klien yang berhubungan
dengan penyakit meningitis
adalah:
- Umur : meningitis adalah
penyakit sistem persarafan yang dapat terjadi pada semua umur, dewasa maupun
anak.
- Pendidikan : Pendidikan
yang rendah dapat mempengaruhi terhadap pengetahuan klien tentang penyakit
meningitis
- Pekerjaan : Ekonomi yang
rendah akan berpengaruh karena dapat menyebabkan gizi yang kurang sehingga daya
tahan tubuh klien rendah dan mudah jatuh sakit.
b) Identitas penanggung jawab
meliputi:
Nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat dan
hubungan dengan klien.
2) Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Pada umumnya klien dengan meningitis keluhan
yang paling utama adalah adanya nyeri kepala atau penurunan kesadaran yang
disertai kejang.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian meliputi keluhan pada saat datang
ke rumah sakit dan keluhan pada saat
pengkajian, dikembangkan dengan menggunakan
analisa PQRST.
P: Provokatif/paliatif
Apakah yang meyebabkan keluhan dan
memperingan serta memberatkan keluhan. Nyeri kepala pada penyakit meningitis
biasanya disebabkan oleh adanya iritasi meningen. Nyeri di rasakan bertambah
bila beraktivitas dan berkurang jika beristirahat.
Q : Quantity / Quality
Seberapa berat keluhan dan bagaimana rasanya
serta berapa sering keluhan itu muncul. Nyeri kepala dirasakan menetap dan
sangat berat.
R: Region / Radasi
Lokasi keluhan dirasakan dan juga arah
penyebaran keluhan sejauh mana.
S : Scale
Intensitas keluhan dinyatakan dengan keluhan
ringan, sedang dan berat. Nyeri kepala pada klien meningitis sangat berat (skala
: 5), dikarenakan adanya iritasi meningen yang disertai kaku kuduk.
T : Timing
Kapan keluhan dirasakan, seberapa sering,
apakah berulang-ulang, dimana hal ini menentukan waktu dan durasi. Keluhan
nyeri dirasakan menetap/terus menerus karena iritasi meningen.
c) Riwayat kesehatan dahulu
Kaji kebiasaan klien : merokok, minum-minuman
beralkohol, riwayat batuk lama / infeksi saluran nafas kronis, batuk berdahak
atau tanpa dahak (dahak berdarah / tidak). Riwayat kontak dengan penderita TBC.
Apakah klien punya riwayat trauma kepala atau tulang belakang. Riwayat infeksi
lain seperti Otitis media dan mastoiditis.
d) Riwayat kesehatan keluarga.
Kaji riwayat keluarga apakah ada keluarga
klien yang menderita penyakit yang sama dengan
klien, riwayat demam disertai
kejang. Adanya penyakit menular seperti TBC.
3) Pemeriksaan fisik
a) Sistem pernafasan
Gejala yang ditemukan biasanya didapatkan
pernafasan cepat dan dangkal, penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, adanya pernafasan
cuping hidung, retraksi dada positif, adanya batuk berdahak, ronkhi positif.
b) Sistem Kardiovaskuler
Suara jantung lemah, adanya peningkatan
tekanan darah atau penurunan tekanan darah dan peningkatan frekuensi denyut nadi.
Pada kasus lebih lanjut akral menjadi dingin, terjadi sianosis dan capillary refil time (CRT) lebih dari 3
detik.
c) Sistem Percernaan
Pada sistem pencernaan ditemukan keluhan mual
dan muntah serta anoreksia bahkan ditemukan adanya kerusakan nervus kranial
pada nervus vagus yang mengakibatkan penurunan reflek menelan. Pada kondisi ini
akan menimbulkan hipersekresi HCl ª iskemia mukosa lambung dan kerusakan barrier mukosa ª erosi hemoragik lambung (perdarahan lambung) sehingga terjadi penurunan
berat badan dan jatuh pada kondisi kurang kalori protein (KKP).
d) Sistem Perkemihan
Pada sistem urinaria dapat terjadi retensi
urine dan inkontinensia urine. Pada kondisi lebih lanjut akan terjadi
albuminuria karena proses katabolisme terutama jika dalam kondisi KKP.
e) Sistem Muskuloskeletal
Pengkajian
pada sistem muskuloskeletal perlu diarahkan pada kerusakan motorik,
kelemahan tubuh, massa otot, dan perlu di kaji rentang gerak dari ekstremitas.
f) Sistem Integumen
Penting mengkaji adanya peningkatan suhu
tubuh sebagai dampak infeksi sistemik, selain itu klien dengan meningitis
seringkali terjadi penurunan kesadaran sehingga klien harus berbaring lama di
tempat tidur dan dapat terjadi gangguan integritas kulit sebagai dampak dari
berbaring yang lama.
g) Sistem persarafan
Gangguan yang muncul pada klien meningitis
yang berkaitan dengan sistem persarafan sangat kompleks. Pada penyakit
meningitis terjadi peradangan selaput otak dan parenkim otak yang merupakan
pusat sistem persarafan. Gangguan yang muncul tersebut antara lain: kerusakan
saraf pengontrol kesadaran yang dapat mengakibatkan penurunan kesadaran, pola
nafas tidak efektif akibat peningkatan tekanan intrakranial yang menekan pusat
pernafasan dan kerusakan pada saraf kranial yaitu nervus vagus yang mengakibatkan
penurunan reflek menelan, nervus kranial lain yang umum terkena adalah nervus
I, III, IV, VI, VIII. Pada penyakit meningitis terdapat tanda yang khas yaitu tanda-tanda iritasi
meningen: kaku kuduk positif, brudzinski I, II positif, kernig dan laseque
positif. Selain itu gejala awal yang sering terjadi pada meningitis adalah
sakit kepala dan demam yamg diakibatkan dari iritasi meningen, juga didapat
adanya manifestasi perubahan perilaku yang umum terjadi, yaitu letargik, tidak
responsif dan koma. Kejang sekunder dapat terjadi juga akibat area fokal
kortikal yang peka. Alasan yang tidak diketahui, klien meningitis juga
mengalami "foto fobia" atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya.
4) Pola aktivitas sehari-hari
a) Nutrisi
Biasanya klien kehilangan nafsu makan, mual,
muntah, anoreksia dan bila pasien mengalami penurunan kesadaran, reflek menelan
terjadi penurunan, sehingga klien harus dipasang naso gastric tube (NGT).
b) Eliminasi
Pada umumnya klien dengan penurunan kesadaran
akan terjadi inkontinensia urine sehingga harus dipasang dower kateter.
c) Istirahat tidur
Istirahat tidur terganggu akibat adanya sesak
nafas, nyeri kepala hebat akibat peningkatan tekanan intra kranial. Hal ini
merupakan mecanoreceptor terhadap reticular activating system ( RAS )
sebagai pusat tidur jaga.
d) Personal hygiene
Bisa mengalami gangguan pemenuhan ADL
termasuk personal hygiene akibat kelemahan otot terutama pada klien dengan
penurunan kesadaran.
5) Data psikologis
Pada umumnya klien merasa takut akan
penyakitnya, cemas karena perawatan lama di rumah sakit dan perasaan tidak
bebas di rumah sakit akibat hospitalisasi.
Konsep diri klien: persepsi klien terhadap
tubuhnya dapat berubah akibat perubahan bentuk dan fungsi tubuh, klien merasa tidak berharga, rendah diri dan kehilangan peran.
Ideal diri klien banyak yang tidak tercapai.
Sebagian besar penyakit meningitis dapat
membatasi kehidupan klien sehari-hari.
6) Data sosial
Perlu dikaji tentang tidak tanggapnya
terhadap aktifitas disekitarnya baik ketika di rumah atau di rumah sakit. Klien
biasanya menjadi tidak peduli dan lebih banyak diam akan lingkungan sekitarnya.
7) Data spiritual
Pengkajian
ditujukan terhadap harapan
kesembuhan, kepercayaan dan penerimaan mengenai keadaan sakit serta keyakinan yang dianut oleh klien
ataupun keluarga klien.
8) Data Penunjang
a) Laboratorium
(1)
Pemeriksaan darah leukosit
meningkat bila terjadi infeksi.
(2)
Analisis cairan
serebrospinalis melalui lumbal fungsi.
Karakteristik cerebro spinalis fluid (CSF)
pada meningitis tuberkulosis adalah :
(a)
Warna CSF jernih
(b)
Jumlah sel eritrosit dan
leukosit meningkat.
(c) Biokimia:
- Kalium
meningkat
- Klorida menurun
- Glukosa menurun
- Protein meningkat
b) Radiologi dengan thorak foto melihat
kemungkinan adanya penyakit saluran nafas sebagai infeksi primer.
c)
Foto tulang wajah untuk melihat adanya skelet dan rongga sinus yang
mengalami sinusitis.
d) Scanning / CT Scan untuk menemukan adanya
patologi otak dan medulaspinalis.
b. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan dan
menggabungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang relevan untuk
membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.
Merupakan suatu proses berpikir yang meliputi kegiatan pengelompokkan data dan
menginterpretasikan kelompok data dan membandingkan dengan standar yang normal
serta menentukan masalah atau penyimpangan yang merupakan suatu kesimpulan.
c.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan yang muncul pada klien dengan meningitis adalah:
Menurut Doenges, 1993 : 311-319
1)
Resiko tinggi penyebaran
infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman patogen.
2)
Resiko tinggi terhadap
perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan oedema serebral.
3)
Resiko tinggi terhadap
trauma berhubungan dengan penurunan kesadaran
4)
Nyeri berhubungan dengan
adanya proses infeksi pada susunan saraf pusat.
5)
Gangguan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan neuromuskuler.
6)
Perubahan persepsi sensori
berhubungan dengan kerusakan sistem saraf.
7)
Ansietas berhubungan dengan perubahan
status kesehatan.
8)
Kurang pengetahuan tentang
penyebab infeksi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
informasi.
Menurut Tucker (1993:522-524).
9)
Ketidak efektifan pola nafas
berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
10) Gangguan keseimbangan suhu tubuh,
hypertermia berhubungan dengan proses
inflamasi.
11) Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.
2.
Perencanaan
Perencanaan adalah proses
penentuan tujuan merumuskan intervensi dan rasional secara sistematis dan
spesifik disesuaikan dengan kondisi, situasi dan lingkungan klien.
a. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman
patogen secara hematogen.
Tujuan : Penyebaran infeksi tidak terjadi.
Kriteria :
- Suhu tubuh normal 36-37°C
- Klien ditempatkan di ruang isolasi
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan
|
Pada fase awal meningitis
meningokokus atau infeksi ensepalitis lainnya, isolasi mungkin diperlukan
sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan
untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain.
|
2.
|
Pertahankan
teknik aseptik dan
teknik cuci tangan yang tepat baik klien atau pengujung maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan. |
Menurunkan
resiko klien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi,
mencegah pemajanan pada individu terinfeksi (misalnya: individu yang
mengalami infeksi saluran pemafasan atas).
|
3.
|
Pantau suhu secara teratur. Catat
munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
|
Terapi obat biasanya akan
diberikan terus selama kurang dari 5 hari setelah suhu turun (kembali normal)
dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis yang terus menerus
merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat
bertahan sampai berminggu- minggu/berbulan-bulan atau terjadi penyebaran patogen secara hematogen/sepsis. |
4.
|
Teliti adanya
keluhan dari dada, berkembangnya nadi yang tidak teratur/disritmia atau demam
yang terus menerus.
|
Infeksi sekunder seperti
miokarditis/perikarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut. |
5.
|
Auskultasi suara nafas. Pantau
kecepatan pernafasan dan usaha pernafasan.
|
Adanya rorchi/mengi, takhipne
dan peningkatan kerja pernafasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret
dengan resiko terjadinya infeksi pernafasan.
|
6.
|
Ubah posisi klien dengan teratur dan
anjurkan untuk melakukan nafas dalam.
|
Mobilisasi
sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan resiko
terjadinya komplikasi terhadap pernafasan.
|
7.
|
Catat karakteristik urine, seperti
warna, kejernihan dan bau
|
Urine statis,
dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung
kemih/ginjal/awitan sepsis.
|
8.
|
Kolaborasi
Berikan terapi antibiotik IV sesuai
indikasi: penisilin G, Ampisilin, Kloramfenikol, Gentamisin,
Amfoterisin B.
|
Obat yang
dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitifitas individu. Catalan: Obat
intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif, jamur, amuba.
|
b. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan
dengan oedema serebral.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan perfusi serebral
Kriteria :
- Tingkat kesadaran membaik
- Tanda-tanda vital stabil
- Tidak adanya nyeri kepala
- Tidak adanya tanda peningkatan TIK
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan
keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma / penurunan perfusi jaringan otak
dan potensial peningkatan TIK
|
Menentukan pilihan intervensi. Penurunan
tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan
awal menunjukan klien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk
mementau tekanan TIK atau pembedahan.
|
2.
|
Pantau status neurologis secara teratur dan
bandingkan dengan nilai standar (misalnya: GCS)
|
Mengkaji adanya kecenderungan pada
tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam
menentukan, lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
|
3.
|
Pantau tanda-tanda vital meliputi TD, Nadi,
Respirasi
|
Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti
oleh penurunan tekanan darah diastolik merupakan tanda adanya peningkatan TIK
nafas yang tidak teratur dapat menunjukan lokasi gangguan serebral dan tanda
adanya peningkatan serebral.
|
4.
|
Bantu klien untuk menghindari manuver valsava,
seperti batuk, mengejan.
|
Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra
thoraks yang akan meningkatkan TIK
|
5
|
Perhatikan adanya gelisah yang meningkat,
peningkatan keluhan dan tingkah laku yang tidak sesuai.
|
Petunjuk non verbal ini menunjukan adanya
peningkatan TIK atau adanya nyeri kepala.
|
6
|
Kaji adanya peningkatan rigiditas, regangan, peka
rangsang, serangan kejang.
|
Merupakan indikasi dari iritasi meningeal yang
dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan dari duramater atau perkembangan
infeksi.
|
7
|
Tinggikan kepala klien 15-45 derajat sesuai
indikasi yang dapat ditoleransi.
|
Meningkatkan aliran balik vena dari kepala
sehingga akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko peningkatan TIK.
|
8
|
Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi
seperti dexametason
|
Menurunkan inflamasi yang selanjutnya menurunkan
oedema jaringan.
|
c. Resiko tinggi terhadap injuri / trauma berhubungan dengan adanya kejang
akibat iritasi korteks serebral.
Tujuan : Trauma / injuri tidak terjadi.
Kriteria : Tidak
mengalami kejang / kejang dapat diatasi.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Monitor adanya kejang/ kedutan pada
tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
|
Mencerminkan adanya iritasi SSP
secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk
mencegah komplikasi.
|
2.
|
Berikan
keamanan pada klien
dengan memberi bantalan pada penghalang tempat tidur, pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan plastik atau gulungan lunak dan alat penghisap. |
Melindungi klien jika terjadi
kejang. Catatan: Memasukan jalan nafas buatan/ gulungan lunak hanya
jika rahangnya relaksasi, jangan dipaksa, memasukan ketika giginya mengatup
karena dapat merusak jaringan lunak.
|
3.
|
Kolaborasi dengan medik untuk
pemberian obat sesuai indikasi,
seperti Fenitoin (dilantin), diazepam (valium), fenobarbital (luminal) |
Merupakan indikasi untuk penanganan
dan pencegahan kejang. Catatan: Fenobarbital dapat menyebabkan depresi
pernafasan dan sedatif serta menutupi tanda/ gejala dari peningkatan TIK.
|
d. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi pada susunan saraf pusat.
Tujuan : Nyeri hilang
Kriteria :
- Klien melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
- Menunjukan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak
gelap sesuai indikasi
|
Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar
atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
|
2.
|
Letakan kantung es pada kepala,
pakaian dingin di atas mata.
|
Meningkatkan vasokontriksi,
menumpulkan persepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri.
|
3.
|
Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman,
seperti kepala agak tinggi sedikit.
|
Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidak
nyamanan lebih lanjut.
|
4.
|
Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara
tepat dan lakukan massase otot daerah bahu atau leher.
|
Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot
yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
|
e.
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak akibat kelemahan atau kerusakan neuromuskular.
Tujuan : Mobilisasi fisik terpenuhi.
Kriteria :
Klien mampu melakukan mobilisasi.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Periksa kembali
kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan
yang terjadi.
|
Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara
fungsional dan
mempengaruhi dan pilihan intervensi yang akan
dilakukan.
|
2.
|
Kaji derajat imobilisasi klien dengan
menggunakan skala ketergantungan
|
Klien mampu mandiri (nilai 0) atau
memerlukan bantuan/ peralatan yang minimal (nilai 1); memerlukan bantuan
sedang dengan pengawasan / diajarkan (nilai 2); memerlukan bantuan /
peralatan yang terus menerus dan alat khusus (nilai 3); atau tergantung
secara total pada pemberian asuhan (nilai 4). seseorang da lam semua kategori
sama-sama mempunyai resiko kecelakaan namun kategori dengan nilai 2-4
mempunyai resiko terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan dengan
imobilisasi.
|
3.
|
Berikan atau bantu untuk melakukan
latihan rentang gerak/ROM.
|
Mempertahankan mobilisasi
dan fungsi sendi / posisi normal ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena
yang statis
|
4.
|
Berikan perawatan kulit dengan
cermat, masase dengan pelembab dan ganti linen / pakaian yang basah dan
pertahankan linen tersebut tetap bersih dan bebas dari kerutan.
|
Meningkatkan sirkulasi dan
elastisitas kulit dan menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi kulit
|
f. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan sistem saraf.
Tujuan : Tidak terjadi perubahan
sensori
Kriteria :
- Melakukan kembali/mempertahankan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi
persepsi
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Evaluasi secara teratur perubahan orientasi,
kemampuan berbicara, alam perasaan/afektif, sensorik dan proses pikir.
|
Fungsi serebral bagian atas biasanya terpengaruh
lebih dulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi.
|
2.
|
Kaji kesadaran sensorik seperti
respon sentuhan, panas/dingin, tajam/tumpul, dan kesadaran terhadap gerakan
dan letak tubuh, perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang
lain.
|
Informasi
penting untuk keamanan klien. Semua sistem sensorik dapat terpengaruh dengan
adanya perubahan yang melibatkan peningkatkan atau penurunkan sensitifitas
atau kehilangan sensasi/kemampuan untuk menerima dan berespon secara sesuai
dengan stimulus.
|
3.
|
Berikan stimulasi yang bermanfaat
secara verbal, penciuman, taktil, pendengaran .
|
Membantu klien untuk memisahkan pada realitas
dari perubahan persepsi, gangguan fungsi kognitif dan atau penurunan
penglihatan dapat menjadi potensi timbulnya disorientasi dan ansietas.
|
4.
|
Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk
berkomunokasi dan melakukan aktifitas.
|
Menurunkan frustrasi yang berhubungan dengan
perubahan kemampuan atau pola respon yang menunjang.
|
g. Ketidak efektifan pola
nafas berhubungan dengan
penurunan kesadaran.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria :
- Frekuensi nafas normal 16 - 20 x /mt
- Irama nafas reguler.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Kaji dan pantau frekuensi pola dan irama nafas
|
Perubahan pola nafas tidak efektif merupakan
tanda berat adanya peningkatan tekanan intrakranial yang menekan medulla
oblongata
|
2.
|
Pertahankan jalan nafas efektif
dengan melakukan pembersihan jalan nafas seperti pengisapan lendir dan oral hygiene.
|
Lendir yang berlebihan akan menumpuk
dan menimbulkan obstruksi jalan nafas.
|
3.
|
Berikan O2 sesuai order
dan monitor efektifitas pemberian oksigen tersebut.
|
Untuk
memenuhi kebutuhan oksigen
dalam darah dan jaringan.
|
4.
|
Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan leher
dan posisi netral.
|
Posisi leher yang ekstensi / menekuk
mengakibatkan jalan nafas terhambat.
|
h. Gangguan keseimbangan suhu tubuh hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : Keseimbangan suhu tubuh terpenuhi.
Kriteria : Suhu tubuh
36 - 37 °C, keringat berkurang, klien tidak merasakan panas badan.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Berikan kompres dingin pada daerah
yang banyak pembuluh darah
sampai suhu badan kembali normal.
|
Kompres dingin
dapat menimbulkan proses konduksi dimana terjadi perpindahan panas dari satu
objek ke objek lain dengan kontak fisik antara kedua objek tersebut.
|
2.
|
Anjurkan pada
klien untuk mengenakan pakaian
tipis dan menyerap keringat.
|
Dengan pakaian
tipis memudahkan penyerapan
keringat dan memberi rasa nyaman.
|
3.
|
Observasi tanda-tanda vital suhu, tensi, respirasi, dan nadi.
|
Untuk mengetahui lebih lanjut
tindakan yang akan dilakukan.
|
4.
|
Kolaborasi pemberian
terapi antipiretik.
|
Antipiretik berfungsi menghambat panas pada hipotalamus.
|
i.
Resiko terjadinya gangguan
integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.
Tujuan :
Ganguan integritas kulit tidak terjadi
Kriteria : Tidak tampak
tanda-tanda gangguan integritas kulit seperti : kemerahan dan lecet pada kulit.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Atur
dan rubah posisi tidur klien setiap 2 jam.
|
Dapat mengurangi tekanan yang terus
menerus yang menimbulkan sirkulasi yang
optimal pada daerah penekanan.
|
2.
|
Berikan bantalan pada area tubuh yang menonjol dan berada
pada permukaan tempat tidur.
|
Dengan
diberikan bantalan pada daerah penekanan akan mengurangi tekanan
efek sirkulasi yang tidak lancar.
|
3.
|
Lakukan masase pada daerah penekanan seperti bokong, siku dan turn it setiap hari.
|
Tindakan
masase sebagi stimulus terhadap vasodilatasi bagi vaskuler yang
mengalami kontriksi pada permukaan sehingga akan membantu melancarkan
sirkulasi pada daerah tersebut.
|
4.
|
Observasi tanda
dekubitus seperti lecet, kemerahan pada siku, tumit,
bokong dan daerah punggung setiap hari
|
Bila ditemukan tanda-tanda dekubitus segera ambil
tindakan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan jaringan
kulit yang berlebihan.
|
j.
Gangguan rasa aman: cemas
klien atau keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit dan perawatan klien dirumah.
Tujuan : cemas dapat diatasi
Kriteria :
-
Klien atau keluarga mengakui
dan mendiskusikan rasa takut.
-
Klien atau keluarga tampak
rileks (tidak memperlihatkan kecemasan seperti gelisah)
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Kaji status mental
dan tingkat ansietas dari klien/keluarga. Catat tanda-tanda verbal atau non
verbal.
|
Gangguan tingkat
kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tapi tidak menyangkal
keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut
diterima oleh individu.
|
2.
|
Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya.
|
Meningkatkan pemahaman,
mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas. |
3.
|
Jelaskan dan
persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan.
|
Dapat meringankan
ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan otak.
|
4.
|
Libatkan klien/keluarga dalam
perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari, membuat keputusan sebanyak mungkin. |
Meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.
|
k. Perubahan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan
reflek menelan (disfagia) atau adanya rasa rnual,muntah dan anoreksia.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
-
Disfagia dapat diatasi
-
Tidak terjadi aspirasi.
- Mual, muntah dan anoreksia tidak ada.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Timbang berat badan seminggu sekali.
|
Untuk mengetahui efektivitas
therapi.
|
2.
|
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
membantu perencanaan makanan.
|
Ahli gizi
adalah spesialis nutrisi yang dapat membantu kebutuhan nutrisi klien dan
langsung mempersiapkan kebutuhan nurisi kliennya.
|
3.
|
Jika masukan
makanan hanya
sedikit, BB terus menerus turun selama 5 hari, status menunjukkan kekurangan nutrisi kolaborasi dengan dokter untuk pemberian nutrisi parenteral total (NPT). |
NPT mensuplai protein dan
kalori,asam lemak dan vitamin dapat diberikan IV bersama-sama larutan NPT,
protein, Karbohidrat dan lemak penting untuk fungsi dan perkembangan sel.
|
4.
|
Bila terjadi disfagia kolaborasi
dengan dokter untuk pemasangan NGT.
|
Dengan NGT dapat menghindari
terjadinya aspirasi karena kelemahan reflek menelan.
|
5.
|
Kolaborasi pemberian obat H2
reseptor antagonis sesuai advis.
|
H2 reseptor antagonis
dapat menghambat produksi HCl atau menetralisir asam lambung.
|
l.
Resiko tinggi
terhadap kekurangan volume
cairan : dehidrasi berhubungan dengan kehilangan cairan, penurunan masukan
oral dan peningkatan suhu tubuh.
Tujuan : Kekurangan volume cairan tubuh tidak
terjadi.
Kriteria :
-
Membran mukosa lembab.
-
Turgor kulit baik.
- Pengisian kapiler cepat.
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
2
|
3
|
1.
|
Kaji perubahan tanda vital.
|
Peningkatan suhu /
demam meningkatkan laju dan
kehilangan cairan tubuh melalui evaporasi.
|
2.
|
Kaji turgor kulit, kelembaban
membran mukosa.
|
Indikator langsung keadekuatan
volume cairan, meskipun membran
mukosa mulut mungkin
kering karena nafas melalui mulut dan oksigen tambahan.
|
3.
|
Catat / lapor keluhan mual atau muntah.
|
Adanya
gejala menurunkan masukan oral.
|
4.
|
Pantau intake dan output
|
Berikan informasi tentang
keadekuatan volume cairan dan kebutuhan pengganti.
|
5.
|
Tekankan
cairan sedikitnya 2500
ml/hari sesuai kondisi
|
Pemenuhan kebutuhan dasar cairan.
|
6.
|
Berikan obat sesuai indikasi,
misalnya antipiretik, antiemetik. |
Berguna untuk menurunkan kehilangan
cairan.
|
7.
|
Berikan cairan tambahan melalui IV sesuai dengan
kebutuhan.
|
Adanya penurunan masukan/banyak
kehilangan, penggunaan parenteral dapat memperbaiki / mencegah kekurangan cairan. |
3. Pelaksanaan
Merupakan tahap pelaksanaan tindakan
dari rencana perawatan yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah yang
ditemukan.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap
pengukuran keberhasilan perawatan dalam memecahkan masalah yang ditemukan dalam
kebutuhan klien dengan cara menilai tujuan yang ditetapkan.
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. TINJAUAN KASUS
1.
PENGKAJIAN
a.
Pengumpulan Data
1)
Data Biografi
a)
Identitas klien
Nama :
Ny. A
Umur :
27 tahun
Jenis kelamin :
Perempuan
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMP
Pekerjaan :
Karyawan pabrik
Suku/Bangsa :
Sunda / Indonesia
Status marital :
Menikah
Tanggal masuk RS :
27 Juli 2005
Tanggal pengkajin :
08 Agustus 2005
Diagnosa medik :
Meningitis Tuberkulosis Grade II
Nomor medrek :
05 07 0979
Alamat :
Bojong loa RT 03 RW 01
Rancaekek Kabupaten Bandung
b)
Identitas penanggung jawab
Nama :
Tn. D
Umur :
30 tahun
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan :
Tidak bekerja
Hubungan dengan klien : Suami
Alamat :
Bojong loa RT 03 RW 01 Ranca ekek Kabupaten Bandung
2)
Riwayat kesehatan
a)
Riwayat kesehatan sekarang
(1)
Keluhan utama saat masuk RS
Tiga minggu sebelum masuk RS klien mengatakan sering nyeri kepala, nyeri
kepala dirasakan klien semakin bertambah parah disertai muntah 1 kali, keluhan
nyeri kepala berkurang bila minum obat sakit kepala. Satu minggu sebelum masuk
RS klien mengeluh panas tinggi lalu berobat ke klinik pengobatan namun tidak
ada perubahan, menurut suaminya kesadaran klien menurun, gelisah, dan kejang 1
kali. Klien sempat dibawa ke Puskesmas Ranca ekek, dirawat selama 4 hari dan di
diagnosa typhus, tidak ada perubahan
pada tanggal 27 Juli 2005 sekitar pukul 09.00 BBWI klien dirujuk ke RS. Dr.
Hasan Sadikin Bandung.
(2)
Keluhan utama saat dikaji
Klien mengatakan nyeri pada tangan sebelah kiri dan lemah tidak dapat
diangkat, nyeri bertambah jika
digerakan dan berkurang
jika diistirahatkan, nyeri terutama dirasakan pada daerah siku dengan
skala nyeri 3 (0-5), nyeri dirasakan terus menerus.
b)
Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat batuk lama disangkal oleh klien, berkeringat malam dirasakan sejak
2 tahun yang lalu, penurunan berat badan ada sejak 2 bulan sebelum masuk rumah
sakit, penurunan berat badan mencapai 4 kg disertai nafsu makan menurun dan
mual, riwayat sakit paru-paru diakui klien sejak 1 ½ bulan sebelum masuk rumah
sakit tetapi bukan TBC menurut keterangan dari dokter klinik, riwayat kontak
dengan penderita TBC disangkal oleh klien, riwayat infeksi telinga, hidung dan
mata disangkal oleh klien, riwayat nyeri kepala ada + 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Klien juga
mengatakan 6 bulan sebelum masuk rumah sakit mengeluh sakit pada sendi siku
yang diduga karena asam urat, klien mengobati sendiri dengan cara dipijat dan
minum jamu anti rheumatik.
c)
Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang pernah menderita penyakit
yang sama, tidak ada yang mempunyai penyakit TBC, hanya saja disekitar rumah
klien ada yang menderita penyakit TBC. Riwayat penyakit keturunan seperti
diabetes mellitus disangkal oleh klien.
d)
Struktur keluarga
Klien tinggal di rumah dengan suami dan anak-anaknya (nuclear family), status sosial ekonomi kurang, klien bekerja hanya
sebagai buruh pabrik dan suami saat ini tidak bekerja, klien berobat dengan
menggunakan kartu sehat, klien tinggal di rumah kontrakan pada lingkungan yang
padat dengan luas rumah 24 m2 (6m x 4m).
3)
Pola aktifitas sehari-hari
NO
|
Jenis Aktivitas
|
Sebelum Masuk RS
|
Saat Sakit
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
Nutrisi
a. Makan
b. Minum
|
Klien mengatakan kebiasaan makan di rumah sehari 3 kali dengan jenis
makanan nasi, lauk pauk, sayur, jarang mengkon-sumsi buah-buahan. Jumlah yang
dimakan biasanya sedikit. Tidak ada pantangan dalam makan keluhan tiga bulan
terakhir nafsu makan berkurang.
Klien mengatakan kebiasaan minum di rumah air putih kira-kira 10
gelas/hari
|
Klien mengatakan saat ini makan sehari tiga kali dengan jenis makanan
bubur nasi, lauk pauk seperti telur, tahu, tempe, daging, sayur dan buah.
Porsi makan klien biasanya habis tidak lebih dari ½ porsi. Klien mengeluh
mual dan nafsu makan kurang.
Klien mengatakan saat ini minum air putih sehari kira-kira 1 botol Aqua
besar (1500cc) dan 1 gelas susu yang diberikan dari RS.
|
2
|
Eliminasi
a. BAB
b. BAK
|
Klien mengatakan kebiasaan BAB di rumah sehari 3 kali, dengan konsistensi
lembek. Jumlah, warna dan bau normal menurut klien. Tidak ada keluhan saat
BAB, dilakukan secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Klien mengatakan kebiasaan BAK di rumah rata-rata 6 kali/hari, warna
kuning jernih, tidak ada keluhan saat BAK. Jumlah urine normal menurut klien.
|
Klien mengatakan saat ini tidak ada keluhan BAB, frekuensi 2 kali sehari
dengan konsistensi lembek. Jumlah, warna dan bau normal menurut klien.
Saat ini klien terpasang dower kateter sejak masuk RS, dengan jumlah
urine rata-rata/hari menurut keluarga 2000 cc, saat dimonitor out put urine
oleh perawat dari pukul 07.00 s.d 11.00 WIB jumlah urine 400 cc, warna kuning
kemerahan, jernih. Klien mengatakan
ada keluhan nyeri dan panas setelah BAK.
|
3
|
Personal hygiene
a. Mandi
b. Mencuci rambut
c.
Gosok
gigi
|
Klien mengatakan kebiasaan mandi
di rumah 3 kali sehari, menggunakan sabun.
Klien mengatakan kebiasaan mencuci rambut/ keramas 2 hari sekali
menggunakan shampoo.
Klien mengatakan kebiasaan menggosok gigi di rumah dilakukan setiap kali
mandi dengan menggunakan pasta gigi.
|
Klien mengatakan saat ini mandi hanya diseka oleh suaminya, 2 kali
sehari.
Klien mengatakan selama dirawat belum pernah mencuci rambut / keramas.
Klien mengatakan selama dirawat belum pernah menggosok gigi, hanya
dibersihkan menggunakan kapas lidi oleh perawat.
|
4
|
Istirahat tidur
a. Siang
b. Malam
|
Klien mengatakan di rumah tidak pernah tidur siang.
Klien mengatakan di rumah biasa tidur mulai pukul 20.00 s.d 05.00 BBWI.
Klien merasa tidak ada gangguan tidur.
|
Klien mengatakan di RS kadang-kadang tidur siang selama 1 jam.
Klien mengatakan di RS biasa tidur mulai pukul 20.00 s.d 03.00 WIB. Klien
merasa tidak ada gangguan tidur.
|
5
|
Kegiatan dan aktifitas
|
Klien mengatakan kegiatan sehari-hari sebelum sakit sebagai karyawan di
perusahaan garmen, dan sebagai ibu rumah tangga memasak dan mengasuh anak.
|
Klien mengatakan selama dirawat tidak memiliki kegiatan apa-apa hanya
istirahat di tempat tidur.
|
4)
Pemeriksaan fisik
a)
Sistem Pernafasan
Bentuk hidung simetris, tidak
terlihat pernafasan cuping hidung, tidak ada deviasi septum, tidak
terlihat penggunaan otot-otot bantu pernafasan, tulang hidung teraba kokoh,
pola nafas normal dengan frekuensi 24 kali/menit, tes kepatenan jalan nafas
kuat pada kedua lubang hidung, tidak terlihat adanya deviasi trakhea,
pergerakan dada simetris antara kiri dan kanan, vokal fremitus teraba sama
antara dada kiri dan kanan pada saat klien mengatakan “tujuh puluh tujuh”,
ekspansi paru kiri dan kanan simetris, perkusi dada terdengar suara resonan
pada daerah paru, pada auskultasi terdengar ronkhi halus pada lapang paru kiri
dan kanan.
b)
Sistem Kardiovaskular
Konjungtiva merah muda, tidak terdapat sianosis, tidak terdapat peningkatan
tekanan vena jugularis, iktus kordis teraba pada mid line klavikula sinistra
ICS ke 5, auskultasi terdengar bunyi jantung S1 - S2 murni reguler, tidak terdapat clubbing finger, capillary refil time (CRT) kurang dari 3 detik, akral teraba
hangat, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 96 kali/menit.
c)
Sistem Pencernaan
Bibir terlihat lembab, bentuk simetris, lidah kotor, gigi geligi kotor,
jumlah 32 buah, fungsi mengunyah dan menelan baik, bentuk abdomen datar,
lembut, tidak terdapat luka, bising usus 12 kali/menit, hepar dan lien tidak
teraba, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba adanya massa, perkusi abdomen
terdengar suara timpani, tidak terdapat haemorroid.
d)
Sistem Perkemihan
Tidak terdapat oedema periorbital, tidak terdengar bruit pada aorta dan
arteri renalis, tidak teraba pembesaran pada kedua ginjal, tidak teraba
distensi kandung kemih, uretra terpasang dower kateter.
e)
Sistem Muskuloskeletal
Tingkat aktifitas klien terbatas, aktifitas klien sebagian besar dibantu
oleh keluarga, tingkat ketergantungan klien 3 (0-4), postur tubuh klien tinggi
kurus, kepala simetris, bentuk proporsional tidak terdapat nyeri tekan pada
tulang kepala, tidak ada keterbatasan gerak pada sendi leher, bentuk tulang
belakang normal tidak ada kifosis, lordosis, maupun skoliosis, kekuatan otot
ekstremitas
(1)
Ekstremitas
atas
Ekstremitas
atas
Tangan kanan terpasang infus NaCl 0,9% 20 tetes/menit, terdapat
keterbatasan gerak pada tangan kiri, terdapat pembengkakan dan klien tampak
meringis saat dilakukan penekanan pada sendi siku yang bengkak.
(2)
Ekstremitas bawah
Gaya berjalan klien tidak dapat dikaji, bentuk kaki kiri dan kanan
simetris, tidak tampak adanya atropi otot, tidak terdapat oedema, terdapat
tahanan pada pergerakan fleksi sendi panggul.
f)
Sistem Integumen
Distribusi rambut merata, warna hitam, tampak kotor dan teraba lengket,
rambut tidak mudah dicabut, kulit klien bersih tampak kering dan tidak terdapat
pruritus, terdapat luka lecet yang
sudah mengering pada bibir atas sampai septum hidung dengan ukuran 2 x 1 x 0,5
cm, turgor kulit cepat kembali dalam 3 detik, suhu tubuh 36,70C,
tidak terdapat pitting oedema.
g)
Sistem Endokrin
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan paratiroid, tidak terdapat
tanda-tanda gangguan hipertiroid (moon
face / exoptalmus, tremor).
h)
Sistem Persarafan
(1)
Tes fungsi serebral
(a)
Tingkat kesadaran
Saat dilakukan pengkajian, kualitas kesadaran berada pada tahap
Alert/kompos mentis yaitu klien sadar terhadap lingkungan dan siap bereaksi
terhadap rangsang dari luar. Sedangkan kuantitas kesadaran klien menurut
perhitungan GCS adalah 15(E4 M6 V5)
(b)
Status mental
·
Orientasi
Orientasi klien terhadap orang, tempat dan waktu tidak terganggu,
dibuktikan dengan klien mampu mengenal suaminya, menyebutkan saat ini ada di
rumah sakit, dan saat dikaji mengatakan siang hari.
·
Daya ingat
-
Long
term memory
Memori jangka panjang klien baik, klien dapat menyebutkan tempat sekolah
saat SD, dan menyebutkan tahun menikah dengan benar, setelah diklarifikasi
kepada suaminya.
-
Recent
memory
Memori jangka pendek klien baik, klien dapat menyebutkan menu makanan yang
baru saja dimakannya dengan benar setelah diklarifikasi kepada suaminya.
·
Perhatian dan perhitungan
Kemampuan perhitungan dan perhatian klien masih baik, klien dapat menjawab
dengan benar hitungan yang di berikan perawat yaitu: 100 – 7, 93 – 7, 86 – 7,
79 – 7, 72 – 7. dan soal penjumlahan sederhana yaitu: 8 + 3, 6 + 7, 13 + 5.
·
Bicara dan Bahasa
Fungsi bicara dan bahasa klien baik, klien mampu berkomunikasi dengan
perawat, artikulasi saat bicara baik, dalam
mengekspresikan keinginan dan perasaan klien bicara lancar, spontan dan
jelas. Klien juga dapat memahami perintah dengan baik saat disuruh melakukan
serangkaian tindakan yaitu mengambil senter lalu menyalakannya kemudian memberikan
kembali kepada perawat.
(2)
Tes fungsi syaraf kranial
(a)
Nervus I (olfaktorius)
Fungsi penciuman klien tidak terganggu, klien dapat membedakan bau kopi
dengan minyak kayu putih.
(b)
Nervus II (optikus)
Fungsi visual dan lapang pandang klien tidak terganggu, klien dapat membaca
dua baris kalimat pada buku dengan huruf kecil dari jarak + 30 cm dan
lapang pandang klien sama dengan lapang pandang pemeriksa saat dilakukan tes
dengan metoda konfrontasi dari Donder.
(c)
Nervus III, IV, VI (okulomotorius,
trokhlearis, abdusen)
Fungsi nervus III dan IV tidak terganggu, klien dapat menggerakan bola mata
kesegala arah kecuali kearah sisi luar (lateral) dan refleks pupil positif
terhadap rangsang cahaya, bentuk pupil bulat isokor dengan diameter 3 mm.
Fungsi pergerakan bola mata yang dipersyarafi oleh nervus VI terganggu,
terbukti klien tidak dapat menggerakan bola mata kearah sisi luar (lateral)
saat dilakukan tes pergerakan bola mata oleh perawat.
(d)
Nervus V (trigeminus)
Fungsi nervus V klien tidak terganggu, klien dapat merasakan adanya
sentuhan pada saat diusapkan pilinan kapas pada maksila dan mandibula dengan
mata tertutup, kelopak mata klien mengedip saat kornea disentuh dengan pilinan
kapas serta terabanya kontraksi otot masetter dan temporalis saat klien
melakukan gerakan mengunyah.
(e)
Nervus VII (fasialis)
Fungsi nervus VII klien tidak terganggu, klien dapat merasakan sensasi rasa
manis, asam, asin pada 2/3 anterior lidah saat di tes dengan gula, garam. Klien
juga dapat mengerutkan dahi dan tersenyum.
(f)
Nervus VIII (akustikus)
Fungsi pendengaran klien tidak terganggu, klien dapat menjawab pertanyaan
perawat dengan benar tanpa diulang dan dapat mendengar saat perawat menggesekan
rambut klien.
(g)
Nervus IX (glosofaringeus) dan Nervus X
(vagus)
Fungsi nervus IX dan X klien tidak terganggu, klien dapat merasakan sensasi
rasa pahit saat di tes dengan menggunakan kopi. Terlihat gerakan uvula klien
simetris dan terangkat keatas saat klien mengatakan “ah”.
(h)
Nervus XI (asesorius)
Fungsi nervus XI klien tidak terganggu, klien mampu melawan tahanan saat
menoleh kekanan dan kekiri serta mampu mengangkat bahu dengan tahanan tangan
perawat.
(i)
Nervus XII (hipoglosus)
Klien dapat menjulurkan lidah serta menggerakannya dengan simetris, yang
membuktikan tidak terganggunya fungsi nervus hipoglosus.
(3)
Refleks
Refleks fisiologis
-
Refleks bisep ++/ tidak dapat dikaji
karena nyeri
-
Refleks trisep ++ / tidak dapat dikaji
karena nyeri
-
Refleks brakhio radialis +/tidak dapat
dikaji karena nyeri
-
Refleks patella ++ / ++
-
Refleks tendon achilles ++ / ++
Refleks patologis
-
Refleks babinski - / -
-
Refleks chaddock - / -
(4)
Tes fungsi sensoris
Pada saat dilakukan pengkajian klien dapat membedakan sensasi halus dengan
kasar, tajam dengan tumpul, panas dengan dingin. Klien juga dapat mengenal
posisi dengan tepat sambil menutup mata saat pemeriksa merubah-rubah posisi
jari klien, klien dapat menyebutkan nama benda yang dipegangnya dengan mata
tertutup, klien dapat menyebutkan huruf yang dituliskan oleh perawat pada
telapak tangannya.
(5)
Tes fungsi serebelum
Klien dapat melakukan tes tunjuk hidung dengan baik, klien juga dapat
melakukan tes tumit lutut dengan baik.
(6)
Tes iritasi meningen
Saat dilakukan pengkajian terhadap tanda-tanda iritasi meningen didapatkan:
-
Kaku kuduk (nuchal rigidity)
Tidak terdapat tahanan saat kepala klien difleksikan sehingga penulis
menginterpretasikan kaku kuduk negatif.
-
Laseque sign
Saat tungkai bawah sebelah kiri difleksikan pada sendi panggul terdapat
tahanan dan klien mengeluh nyeri pada posisi + 500 sehingga
penulis meng interpretasikan Laseque
positif.
-
Kernig sign
Tidak terdapat tahanan dan rasa nyeri pada saat tungkai bawah difleksikan
pada sendi panggul sampai membuat sudut 900 lalu tungkai bawah
diekstensikan pada sendi lutut sampai dengan 1350 sehingga di
interpretasikan oleh penulis negatif.
-
Brudzinski I (Brudzinski’s neck sign)
Tidak terjadi fleksi kedua tungkai bawah saat kepala klien di fleksikan
sejauh mungkin, interpretasi penulis brudzinski I negatif.
-
Brudzinski II (Brudzinski’s contralateral leg sign)
Saat salah satu tungkai bawah difleksikan pada persendian panggul, tungkai
yang satu tetap dalam posisi ekstensi. Interpretasi penulis untuk brudzinski II
negatif.
5)
Data Psikologis
a)
Status Emosi
Emosi klien stabil, klien tampak tenang saat dilakukan wawancara maupun
pemeriksaan fisik oleh perawat.
b)
Kecemasan
Klien tidak tampak tegang dan gelisah
c)
Pola Koping
Klien mengatakan jika dirinya mempunyai masalah selalu diceritakan kepada
suaminya untuk mencari pemecahannya.
d)
Gaya Komunikasi
Klien bicara selayaknya hubungan pasien dan perawat, tidak mendominasi
percakapan, apabila ditanya klien menjawab dengan spontan, tidak tampak sedang
menyembunyikan data.
e)
Konsep Diri
(1)
Gambaran Diri / Body Image
Klien menyukai seluruh bagian tubuhnya dan yang paling disukai dari
tubuhnya adalah betis.
(2)
Harga Diri
Klien mengungkapkan secara verbal dengan keadaan tubuh saat ini tidak
merasa rendah diri, dirinya merasa masih berharga didalam keluarganya baik bagi
suami maupun bagi anak-anaknya.
(3)
Ideal Diri
Ideal diri klien saat ini adalah ingin segera sembuh dan dapat berkumpul
lagi dengan anak-anaknya.
(4)
Peran Diri
Klien merasa kehilangan perannya selama sakit, terutama peran sebagai ibu
rumah tangga yaitu mengurus anak-anaknya, klien juga mengatakan sering menangis
jika teringat anak-anaknya.
(5)
Identitas Diri
Klien merasa puas dengan jenis kelaminnya sebagai seorang perempuan,
karenanya naluri keibuannya untuk mengurus anak-anak dan suami tinggi.
6)
Data Sosial
Hubungan klien dengan orang lain baik keluarga, kerabat maupun tetangga
menurut klien baik. Hubungan klien dengan klien dan keluarga klien lain di ruangan
baik, klien juga mengenal nama petugas
dan suka berkomunikasi.
7)
Data Spiritual
Klien meyakini setiap penyakit dapat disembuhkan jika mau berusaha, klien
juga merasa sakitnya itu merupakan cobaan dari Tuhan, klien di rumah sebelum
sakit suka melaksanakan ritual keagamaan seperti sholat 5 waktu, namun pada
saat sakit klien tidak melakukannya karena kelemahan fisik, klien beranggapan
Tuhan pun akan memakluminya, saat ini kegiatan spiritualnya hanya dengan cara
berdoa kepada Allah SWT, sebagai Tuhan yang diyakininya.
8)
Data Seksual
Klien mengatakan sejak mulai sakit sudah tidak melakukan hubungan badan
dengan suaminya, suami klien pun menyadari dan menerima keadaan klien saat ini,
klien sudah cukup puas dengan ditunggu, ditemani dan dilayani oleh suaminya.
9)
Data Penunjang
a)
Laboratorium
No
|
Tanggal
|
Jenis Pemeriksaan
|
Hasil
|
Nilai Normal
|
Satuan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
1.
|
28 Juli 2005
|
Glukosa sewaktu
Liquor/transudat/eksudat
Jumlah sel
Hitung jenis
PMN
MN
Nonne
Pandy
Gula liquor
Protein liquor
Warna
Kejernihan
Hematologi
HB
Leukosit
Trombosit
|
105
273
42
58
Positif
Positif
7
600
Bening
Jernih
10
8100
264.000
|
< 140
< 5
Negatif
Negatif
45-70
15-45
12-16
3,8-10,6
150-440rb
|
mg/dL
/mm3
%
%
mg/dL
mg/dL
gr/dL
/mm3
/mm3
|
2
|
29 Juli 2005
|
LED
Hitung jenis leukosit
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Lymfosit
monosit
|
35 – 60
0
0
1
81
7
1
|
0-20
0-1
1-6
3-5
40-70
30-45
2-40
|
/mm3
%
%
%
%
%
%
|
3
|
1 Agustus 2005
|
SGOT
SGPT
Natrium
kalium
|
163
133
138
3,0
|
s.d 31
s.d 31
135-145
3,6-5,5
|
U/L
U/L
mEq/L
mEq/L
|
4
|
5 Agustus 2005
|
Mikrobiologi
Gram
BTA Liquor
|
Batang gram (+)
BTA (+)
|
Negatif
Negatif
|
|
5
|
6 Agustus 2005
|
SGOT
SGPT
Natrium
Kalium
|
96
197
131
3,7
|
s.d 31
s.d 31
135-145
3,6-5,5
|
U/L
U/L
mEq/L
mEq/L
|
6
|
8 Agustus 2005
|
Billirubin total
Billiribin direct
Billirubin indirect
SGPT
|
0,59
0,11
0,48
327
|
1,0
0,25
0,75
s.d 31
|
mg/dL
mg/dL
mg/dL
U/L
|
b)
Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi tanggal 29 Juli 2005
Ø
Thorax foto menunjukan gambaran TB millier
Ø
Artritis a/r elbow joint sinistra e.c
suspek TB
c)
Therapi
Ø
Infus NaCl 0,9% 20 tetes / menit
Ø
INH 400 mg 1 x 1 tablet / oral, 1jam sebelum makan
Ø
Rifampicin 450 mg 1x 1 kaplet / oral, 1 jam sebelum makan
Ø
Pyrazinamid 500 mg 1x 2 tablet / oral 1 jam setelah makan
Ø
Ethambutol 500 mg 1 x 2 tablet / oral 1 jam setelah makan
Ø
Pyridoxin (vitamin B6 50 mg) 1 x 1
tablet / oral
Ø
Curcuma 2 x 1 tablet / oral
Ø
Rantin 2 x 1 ampul / iv
Ø
Dexametason 3 x 1 ampul / iv
Ø
KSR
1 x 1 tablet / oral
b.
Analisa Data
No
|
Data
|
Kemungkinan penyrbab dan dampak
|
Masalah
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
|
DS :
DO:
§ Hasil rontgen thorax tanggal 28/7/05 :
TB Milier
§ LED :
35-60 mm3
§ Hasil analisa LCS tanggal 28/7/2005 :
Liquor/transudat/eksudat
Jumlah sel 273 /mm3
Hitung jenis
PMN è 42 %
MN è 58 %
Nonne è
positif
Pandy è
positif
Glukosa è 7
mg/dL
Protein è
600 mg/dL
Warna è
bening
Kejernihan è jernih
§ Mikrobiologi
tanggal
5/8/2005
Gram
batang positif
BTALiquor positif
§ Tes iritasi meningen
Laseque positif
|
Resiko tinggi penyebaran infeksi
|
|||||
2
|
DS :
§ Klien mengatakan porsi makan klien
biasanya habis tidak lebih dari ½ porsi.
§ Klien mengeluh mual dan nafsu makan
kurang.
§ Klien mengatakan penurunan berat badan
ada sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, penurunan berat badan mencapai 4
kg disertai nafsu makan menurun dan mual
DO :
§ Klien tampak mau muntah saat diberikan
makan.
§ postur tubuh klien tinggi kurus
§ Hb 10 gr/dL
|
Proses peradangan pada otak
↓
Menghasilkan eksudat
↓
Menambah volume intrakranial
↓
Mendesak organ dibawahnya termasuk hipotalamus
↓
Menstimulasi hipotalamus
↓
Menstimulasi N. Vagus
↓
Menstimulasi pengeluaran HCL
↓
Mual Infeksi TB
Pengobatan dengan
OAT
Efek samping OAT
Anoreksia
|
Gangguan asupan nutrisi: kurang dari kebutuhan
|
||||
3
|
DS :
§ Klien mengatakan nyeri tangan sebelah
kiri dan tidak bisa diangkat, nyeri bertambah jika digerakan dan berkurang
jika di istirahatkan, nyeri terutama pada daerah siku, nyeri dirasakan terus
menerus.
DO :
§ Skala nyeri 3 (0-5)
§ Terdapat keterbatasan gerak pada tangan
kiri, terdapat pembengkakan dan klien tampak meringis pada saat dilakukan
penekanan pada sendi siku yang bengkak.
§ Artritis a/r elbow joint sinistra e.c
suspek TB
|
Proses infeksi Tb primer
↓
Penyebaran secara limfohematogen
↓
Pembentukan tuberkel-tuberkel kecil pada
jaringan tulang
↓
Tuberkel melunak dan pecah
↓
Terjadi peradangan pada tulang
↓
Menstimulasi pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin, serotonin, bradikinin dan substansi P)
↓
Merangsang nosi reseptor
↓
Dihantarkan oleh serabut syaraf C
↓
Dialirkan dalam bentuk elektrokimia impuls
ganglion radiks menuju dorsal horn dimedulaspinalis bagian posterior
↓
Ditrasfer ke thalamus melalui traktus
spinotalamikus
↓
Korteks serebri
↓
Nyeri dipersepsikan
|
Gangguan rasa
nyaman : nyeri
|
||||
4
|
DS :
§ Klien mengatakan selama dirawat belum
pernah mencuci rambut/keramas.
§ Klien mengatakan selama dirawat belum
pernah menggosok gigi, hanya dibersihkan menggunakan kapas lidi oleh perawat.
DO :
§ Rambut tampak kotor dan teraba lengket.
§ Lidah kotor, gigi geligi kotor
|
Gangguan
pemenuhan ADL : personal hygiene
|
|||||
|
DS :
§ Klien mengatakan memiliki riwayat sakit
paru-paru diakui klien sejak 1 ½ bulan sebelum masuk rumah sakit tetapi klien
menyangkal sakit TBC
§ Klien juga mengatakan 6 bulan sebelum
masuk rumah sakit mengeluh sakit pada sendi sikut yang diduga karena asam
urat.
DO :
§ Hasil radiologi dan laboratorium
menunjukan klien terinfeksi TB
§ Klien mendapatkan therapi OAT
|
Resiko drop out
pengobatan
|
|||||
DS :
§ Klien mengatakan merasa kehilangan
perannya selama sakit, terutama peran sebagai ibu rumah tangga yaitu mengurus
anak-anaknya
§ Klien mengatakan sering menangis jika
ingat anak-anaknya
§ Klien mengatakan ingin segera sembuh dan bisa berkumpul lagi
dengan anak-anaknya.
DO :
§ Klien dirawat sejak tanggal 27 Juli 2005
|
Penyakit infeksi TB
yang berat
Membutuhkan perawatan
di RS
Terpisah dengan anggota
keluarga yang lain (anak-anaknya)
Peran sebagai ibu
terganggu
|
Gangguan konsep diri : peran
|
|||||
DS :
§ Klien mengatakan ada keluhan nyeri dan panas setelah BAK.
DO :
§ Saat ini klien terpasang Dower kateter
sejak masuk RS, dengan jumlah urine rata-rata / hari menurut keluarga 2000
cc, saat dimonitor out put urine oleh perawat dari pukul 07.00 s.d 11.00 WIB
jumlah urine 400 cc, warna kuning
kemerahan, jernih.
|
Pemasangan kateter yang lama
portal of entry bagi mikro organisme
Resiko infeksi
traktus urinarius
|
Resiko infeksi traktus urinarius
|
c.
Diagnosa Keperawatan Berdasarkan
Prioritas
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Ditemukan
|
Dipecahkan
|
||
Tanggal
|
Paraf
|
Tanggal
|
Paraf
|
||
1
|
Resiko tinggi penyebaran nfeksi berhubungan dengan masuk dan aktifnya
mikroorganisme patogen dalam tubuh.
|
08-08-2005
|
12-08-2005
|
||
2
|
Gangguan asupan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
dan anoreksia
|
08-08-2005
|
11-08-2005
|
||
3
|
Gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene berhubungan dengan keterbatasan
aktifitas akibat nyeri dan kelemahan fisik
|
08-08-2005
|
09-08-2005
|
||
4
|
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya proses peradangan
pada tulang
|
08-08-2005
|
10-08-2005
|
||
5
|
Resiko infeksi traktus urinarius berhubungan dengan
terpasangnya dower kateter sebagai portal
of entry bagi mikro organisme
|
09-08-2005
|
10-08-2005
|
||
6
|
Resiko drop out pengobatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien
tentang perawatan dan aturan pengobatan penyakitnya
|
09-08-2005
|
10-08-2005
|
||
7
|
Gangguan konsep diri : peran berhubungan dengan hospitalisasi
|
09-08-2005
|
10-08-2005
|
2.
PERENCANAAN
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana
|
||
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan masuk dan aktifnya
mikroorganisme dalam tubuh.
DS :
DO:
§ Hasil rontgen thorax tanggal 28/7/05 :
Tb Milier
§ Hasil analisa LCS tanggal 28/7/2005 :
Liquor/transudat/eksudat
Jumlah sel è 273
/mm3
Hitung jenis
PMN è 42 %
MN è 58 %
Nonne è positif
Pandy è
positif
Glukosa è 7
mg/dL
rotein è 600
mg/dL
Warna è
bening
Kejernihan è
jernih
§ Mikrobiologi
tanggal
5/8/2005
Gram
è
batang positif
BTALiquor è
positif
§ Tes iritasi meningen
Laseque positif
|
Tupan :
Infeksi tuberkulosis tidak
menyebar
Tupen :
Tidak menunjukan tanda-tanda penyebaran infeksi setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 5 hari dengan kriteria :
Ø Vital sign dalam batas normal
Ø Kesadaran tetap alert/kompos mentis
Ø Tidak terdapat tanda-tanda peningkatan
tekanan intra kranial
Ø Tanda iritasi meningen negatif
Ø Nilai analisa LCS berangsur normal
Ø Tidak menunjukan adanya proses infeksi
tuberkulosis pada organ lain seperti usus dan ginjal
|
1. Berikan tindakan isolasi sebagai
tindakan pencegahan
2. Anjurkan klien untuk menggunakan masker
3. Pertahankan tehnik aseptik dan cuci tangan yang tepat
baik klien, pengunjung, maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung / staf
sesuai kebutuhan.
4. Observasi tanda-tanda vital klien
meliputi : tensi, nadi, suhu dan respirasi, setiap 8 jam.
5. Observasi tingkat kesadaran klien setiap
hari.
6. Observasi terhadap adanya tanda-tanda
peningkatan TIK seperti nyeri kepala.
7. Observasi tanda-tanda iritasi meningen
seperti : kaku kuduk, laseque, brudzinski I dan II, kernig sign.
8. Lanjutkan pemberian OAT sesuai dengan
program therapi medik.
|
1. Pada awal fase meningitis, isolasi
mungkin diperlukan untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain.
2. Mencegah penularan infeksi melalui
droplet pada saat klien batuk atau bicara.
3. Menurunkan resiko klien terkena infeksi
4. Keadaan infeksi sistemik dapat
mempengaruhi nilai normal tanda-tanda vital seperti peningkatan suhu tubuh,
peningkatan denyut nadi dan pertnafasan, peningkatan atau penurunan tekanan
darah.
5. Peradangan pada susunan syaraf pusat
akan mempengaruhi tingkat kesadaran. Tingkat kesadaran yang baik merupakan
indikator adanya perbaikan.
6. Tanda-tanda peradangan seperti oedema,
adanya eksudat jika terjadi pada SSP akan mendesak kedalam yang akan
meningkatkan TIK.
7. Menghilangnya tanda-tanda iritasi
meningen merupakan indikator perbaikan klinis pada klien dengan meningitis.
8. OAT akan menghambat pertumbuhan dan
membunuh mikobakterium tuberkulosis sebagai agent penyebab.
|
2
|
Gangguan asupan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
dan anoreksia
DS :
§ Klien mengatakan porsi makan klien
biasanya habis tidak lebih dari ½ porsi.
§ Klien mengeluh mual dan nafsu makan
kurang.
§ Klien mengatakan penurunan berat badan
ada sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, penurunan berat badan mencapai 4
kg disertai nafsu makan menurun dan mual
DO :
§ Klien tampak mau muntah saat diberikan
makan.
§ postur tubuh klien tinggi kurus
§ Hb 10 gr/dL
|
Tupan :
Kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi
Tupen :
Mual dan anoreksia berkurang setelah diberikan asuhan keperawatan selama
4 hari dengan kriteria :
Ø klien mengatakan secara verbal mual
berkurang dan nafsu makan meningkat
Ø klien dapat menghabiskan porsi makan
yang diberikan dari RS
Ø klien tidak menunjukan keinginan muntah
saat makan
|
1. Berikan penjelasan tentang penyebab mual
dan nafsu makan berkurang serta
pentingnya asupan makanan yang adekuat.
2. Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan
menarik.
3. Libatkan klien dalam penyusunan menu
makanan sesuai dengan selera.
4. Lakukan oral hygiene secara teratur
minimal 2 kali sehari.
5. Berikan minum air hangat sebelum makan.
6. Berikan makan minimal 1 jam setelah
minum OAT.
7. Lanjutkan pemberian terapi anti emetik :
Ranitidin
8. Lanjutkan pemberian terapi suplemen :
Curcuma dan Vitamin B6
9. Modifikasi lingkungan agar nyamanuntuk
makan
|
1. Pemahaman tentang penyebab mual dan
nafsu makan kurang akan meningkatkan pengertian klien, dan diharapkan klien
dapat mengatasi dengan caranya sendiri.
2. Makanan hangat dengan penyajian yang
menarik diharapkan akan meningkatkan selera makan.
3. Menu yang sesuai dengan selera klien
akan meningkatkan nafsu makan.
4. Mulut yang bersih dapat meningkatkan
nafsu makan.
5. Pemberian air hangat sebelum makan akan
merangsang pengeluaran enzim pencernaan dimulut.
6. Efek samping OAT dapat menimbulkan rasa
mual.
7. Ranitidin bekerja denga melawan reseptor
H2 sebagai reseptor HCl
sehingga tidak mengaktifkan pengeluaran asam lambung yang berlebihan yang
dapat menimbulkan mual.
8. Curcuma dan vitamin B6 disamping dapat
menetralisis efek samping OAT sebagai hepato protektor juga dapat
meningkatkan nafsu makan dan mengurangi mual.
9. Lingkungan yang kurang nyaman akan
menurunkan selera makan.
|
3
|
Gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene berhubungan dengan keterbatasan
aktifitas akibat nyeri dan kelemahan fisik
DS :
§ Klien mengatakan selama dirawat belum
pernah mencuci rambut/keramas.
§ Klien mengatakan selama dirawat belum
pernah menggosok gigi, hanya dibersihkan menggunakan kapas lidi oleh perawat.
DO :
§ Rambut tampak kotor dan teraba lengket.
Lidah kotor, gigi geligi kotor
|
Tupan :
Kebutuhan ADL klien terpenuhi
Tupen :
Klien dapat memenuhi kebutuhan ADL: personal hygiene sesuai dengan
kemampuannya setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 hari dengan
kriteria :
Ø Klien dapat menggosok giginya sendiri
dengan bantuan minimal dari perawat
Ø Gigi dan lidah klien tampak bersih
Ø Rambut klien bersih, rapih dan tidak
lengket
Ø Aktifitas klien meningkat seperti makan,
minum, menyisir rambutnya dengan bantuan minimal
|
1. Kaji ulang tingkat ketergantungan klien
terhadap orang lain.
2. Fasilitasi klien untuk melakukan oral
hygiene secara mandiri.
3. Bantu klien dalam memenihi kebutuhan
personal hygiene yang tidak dapat dilakukan secara mandiri.
4. Berikan reward jika klien mampu melakukan ADL sesuai dengan
kemampuannya.
|
1. Perawat hanya membantu pada tingkat
dimana klien tidak dapat melakukannya sendiri bertujuan untuk memandirikan
klien.
2. Membantu mengembalikan fungsi klien dalam
memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
3. Kelemahan sebagian anggota tubuh membuat
klien tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri total.
4. Memberikan motivasi bagi klien untuk
terus meningkatkan kemampuan dirinya dalam melakukan ADL.
|
4
|
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya proses peradangan
pada tulang
DS :
§ Klien mengatakan nyeri tangan sebelah
kiri dan tidak bisa diangkat, nyeri bertambah jika digerakan dan berkurang
jika di istirahatkan, nyeri terutama pada daerah sikut, nyeri dirasakan terus
menerus.
DO :
§ Skala nyeri 3 (0-5)
§ Terdapat keterbatasan gerak pada tangan
kiri, terdapat pembengkakan dan klien tampak meringis pada saat dilakukan
penekanan pada sendi siku yang bengkak.
§ Artritis a/r elbow joint sinistra e.c
suspek TB.
|
Tupan :
Nyeri hilang
Tupen :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 5 hari, klien dapat
beradaptasi dengan nyeri akibat proses peradangan dengan kriteria :
Ø Klien mengungkapkan secara verbal dapat
mengendalikan rasa nyeri nya.
Ø Klien dapat memilih dan mendemonstrasikan
salah satu teknik manajemen nyeri non farmakologis
Ø Skala nyeri berkurang dari 3 menjadi 2
(0-5)
|
1. Kaji ulang tingkat nyeri sebelum
melakukan tindakan.
2. Ajarkan klien tentang teknik mengurangi
nyeri seperti :
3. Anjurkan klien untuk mendemonstrasikan
teknik-teknik di atas.
4. Anjurkan klien untuk menggerakan
tangannya yang sakit sesuai dengan kemampuan klien.
5. Jika perlu kolaborasikan untuk pemberian
analgetik
|
1. Dengan mengetahui tingkat nyeri dapat
menentukan tindakan yang tepat.
2. Teknik-teknik ini dapat mengurangi nyeri
secara fisiologis baik dalam menghambat impuls nyeri maupun dalam
mempersepsikan nyeri.
3. Klien dapat merasakan langsung manfaat
dari teknik-teknik manajemen nyeri.
4. Meningkatkan toleransi klien terhadap
nyeri, sehingga klien dapat beradaptasi dengan nyeri secara bertahap, dan
dapat mencegah terjadinya kontraktur pada sendi-sendi yang tidak sakit
(pergelangan tangan dan jari-jari tangan kiri)
5. Analgetik dapat menurunkan ambang nyeri.
|
5
|
Resiko infeksi traktus urinarius berhubungan dengan
terpasangnya dower kateter sebagai portal of entry bagi mikro organisme
DS :
§ Klien mengatakan ada keluhan nyeri dan panas setelah BAK.
DO :
§ Saat ini klien terpasang Dauer catether
sejak masuk RS, dengan jumlah urine rata-rata/hari menurut keluarga 2000 cc,
saat dimonitor out put urine oleh perawat dari pukul 07.00 s.d 11.00 WIB
jumlah urine 400 cc, warna kuning kemerahan, jernih
|
Tupan :
Infeksi traktus urinarius
tidak terjadi
Tupen :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 hari tidak terdapat
tanda-tanda infeksi traktus urinarius dengan kriteria:
Ø Klien tidak mengeluh nyeri dan panas
pada saat BAK
Ø Klien dapat mengontrol keinginan
miksinya
Ø Klien dapat BAK tanpa kateter
|
1. Kaji adanya tanda dan gejala infeksi
traktus urinarius.
2. Lakukan perawatan dower kateter dengan
menggunakan antiseptik
3. Lakukan blast trainning.
4. Kolaborasikan untuk pemeriksaan urine
rutin.
5. Kolaborasikan untuk pelepasan dower kateter
|
1. Mangetahui adanya infeksi sedini mungkin
2. Perawatan dauer kateter dengan menggunakan
antiseptik dapat mengurangi terjadinya resiko infeksi.
3. Mengadaptasikan otot-otot blast untuk
mengontrol miksi setelah pemasangan kateter.
4. Untuk memastikan ada tidaknya infeksi
traktus urinarius dengan melihat karakteristik urine secara makro dan mikroskopik.
5. Menghilangkan faktor resiko terjadinya
infeksi traktus urinarius.
|
6
|
Resiko drop out pengobatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien
tentang penyakit, perawatan dan aturan pengobatan penyakitnya
DS :
§ Klien mengatakan memiliki riwayat sakit
paru-paru diakui klien sejak 1 ½ bulan sebelum masuk rumah sakit tetapi klien
menyangkal sakit TBC
§ Klien juga mengatakan 6 bulan sebelum
masuk rumah sakit mengeluh sakit pada sendi sikut yang diduga karena asam
urat.
DO :
§ Hasil radiologi dan laboratorium
menunjukan klien terinfeksi Tb
§ Klien mendapatkan therapi OAT
|
Tupan :
Program pengobatan berhasil
Tupen :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 hari, klien bertambah
pengetahuannya tentang penyakit, perawatan
dan aturan pengobatan penyakitnya
dengan kriteria :
Ø Klien dapat menyebutkan nama penyakitnya
Ø Klien dapat menyebutkan cara perawatan
penyakitnya serta program pengobatannya.
Ø Klien dapat menyebutkan efek samping OAT
Ø Klien dapat menyebutkan dampak negatif
jika pengobatan tidak tuntas
Ø Terbentuknya PMO
|
1. Kaji ulang pengetahuan klien tentang
penyakitnya.
2. Berikan informasi tentang penyakit dan
program pengobatannya dihubungkan dengan perawatannya, meliputi :
§ Pengertian
§ Cara perawatan dan diet
§ Program pengobatan
§ Efek samping obat
§ Dampak jika pengobatan tidak tuntas
3. Lakukan evaluasi terhadap klien dan
keluarga setelah diberikan pendidikan kesehatan.
4. Bentuk pendamping minum obat (PMO)
|
1. Mengkaji kebutuhan klien dan keluarga
terhadap informasi.
2. Peningkatan pengetahuan klien dan
keluarga tentang penyakit, program pengobatan dan perawatannya akan
meningkatkan motivasi klien untuk berperan aktif dalam perawatan dirinya.
3. Mengkaji pengetahuan klien dan keluarga
setelah diberikan penkes.
4. Dengan adanya PMO diharapkan akan
menjadi motivator bagi klien untuk tetap menjalankan program pengobatan
hingga tuntas serta menjami klien meminum obat secara teratur.
|
7
|
Gangguan konsep diri : peran berhubungan dengan hospitalisasi
DS :
§ Klien mengatakan merasa kehilangan
perannya selama sakit, terutama peran sebagai ibu rumah tangga yaitu mengurus
anak-anaknya
§ Klien mengatakan sering menangis jika
ingat anak-anaknya
§ Klien mengatakan ingin segera sembuh dan bisa berkumpul lagi
dengan anak-anaknya.
DO :
Klien dirawat sejak tanggal 27 Juli 2005
|
Tupan :
Fungsi peran klien tidak
terganggu
Tupen :
Setelah 2 hari diberikan asuhan keperawatan klien menyadari kondisinya
saat ini dalam masa perawatan dan pengobatan dan klien dapat beradaptasi
dengan peran dan lingkungan yang baru yaitu sebagai pasien RS, dengan
kriteria :
Ø Klien mengungkapkan secara verbal perasaannya saat ini.
Ø Klien dapat menyebutkan alasan dirawat
di RS dan tidak boleh dijenguk anak-anak
Ø Keluarga dapat meyakinkan klien bahwa
peran klien seperti ini hanya sementara.
|
1. Jelaskan pada klien tentang keadaan klien
saat ini
2. Gali keinginan klien saat ini
3. Diskusikan dengan klien tentang peran
yang dapat dilakukan selama klien dirawat di RS.
4. Jelaskan pada klien bahwa RS adalah
tempat tinggal klien sementara.
5. Libatkan keluarga dalam masalah yang
dihadapi klien.
|
1. Dengan memahami tujuan perawatan
diharapkan klien mendukung proses perawatannya.
2. Untuk mengetahui ideal diri klien saat
ini dan yang akan datang.
3. Agar klien termotivasi untuk dapat
melakukan peran yang lain selama di RS.
4. Agar klien merasa tenang dan tidak
merasa diasingkan oleh keluarga.
5. Agar keluarga memahami perasaan dan
kesulitan yang dihadapi klien.
|
3.
PELAKSANAAN
No
|
Tanggal
|
No DP
|
Implementasi
|
Paraf
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
08-8-2005
Pukul 08.00
09.30
10.00
|
1
1
1
1
2
2
2
2
1
|
Melakukan observasi
tanda-tanda vital klien meliputi : tensi, nadi, suhu dan respirasi
Hasil:
TD :
110/70 mmHg
Nadi :
96 kali / menit
Suhu :
36,7o C
Respirasi : 24 kali / menit
Melakukan observasi
tingkat kesadaran klien
Hasil :
Kesadaran kualitatif
klien Alert/kompos mentis
Kesadaran kuantitatif : GCS 15
Melakukan observasi terhadap
adanya tanda- tandapeningkatan
TIK seperti nyeri kepala.
Hasil :
Klien mengatakan saat ini
tidak terdapat nyeri kepala
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda iritasi meningen seperti : kaku kuduk, lasegue,
brudzinski I dan II, kernig sign.
Hasil:
Kaku kuduk : negatif
Brudzinski :
negatif
Kernig :
negatif
Laseque :
positif
Menyajikan makanan dalam keadaan hangat
dengan menggunakan meja makan klien
Hasil :
Porsi makan klien habis 1/4 porsi, klien
mengatakan tidak nafsu makan.
Memberikan minum air
hangat sebelum makan.
Hasil :
Klien minum air hangat
habis 1/4 gelas, klien mengatakan tidak nafsu makan.
Memberikan makan 1 jam setelah minum OAT.
Hasil :
Klien makan dibantu
perawat, hanya habis 1/4 porsi
Memberikan injeksi anti
emetik sesuai dengan terapi : Ranitidin
Hasil :
Klien tidak mengeluh
nyeri dan pusing setelah disuntik
Memberikan injeksi anti
infalamasi sesuai dengan program terapi : Dexametason 1 ampul / iv.
Hasil:
Klien tidak mengeluh
pusing setelah penyuntikan.
|
|
2
|
09-8-2005
Pukul 07.15
07.30
08.00
08.40
10.00
10.00
10.15
11.00
11.15
11.30
11.45
12.10
|
1
1
1
1
4
4
4
2
1
2
1
3
3
3
3
2
2
2
6
6
6
5
5
|
Memberian OAT sesuai dengan
program therapi medik:
§ INH 400 mg / oral
§ Rifampisin 450 mg / oral
§ Vitamin B6 50 mg / oral
§ Curcuma 1 tablet / oral
Hasil :
Klien mau minum obat, klien masih
mengeluhkan adanya mual setelah minum
obat.
Melakukan observasi
tanda-tanda vital
Hasil :
TD : 120 / 70 mmHg, N : 88
x / menit, R : 24 x / Menit, Suhu : 36,9o C
Melakukan
observasi tingkat kesadaran
Hasil :
Kompos
mentis, GCS 15
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda iritasi meningen seperti : kaku
kuduk, lasegue, brudzinski I dan II, kernig sign.
Hasil :
Kaku kuduk : negatif
Brudzinski :
negatif
Kernig :
negatif
Lasegue :
positif
Mengkaji ulang tingkat nyeri sebelum
melakukan tindakan.
Hasil :
Klien tampak sudah dapat beradaptasi dengan
nyeri, skala nyeri masih 3 (0-5)
Mengajarkan klien tentang teknik
mengurangi nyeri seperti: Relaksasi, Distraksi, Guide Imagery.
Hasil:
Klien mengatakan akan
mencobanya nanti saja sendiri.
Anjurkan klien untuk menggerakan tangannya
yang sakit sesuai dengan kemampuan
klien.
Hasil:
Klien
mau mencoba menggerak-gerakan tangannya dengan dibantu oleh perawat,
klien mengatakan akan mencobanya lagi dibantu dengan tangan kanannya.
Menyajikan makanan dalam
keadaan hangat dengan menggunakan meja makan klien
Hasil :
Porsi
makan klien habis 1/4 porsi, klien mengatakan tidak nafsu makan.
Memberikan
obat OAT setelah makan :
Ethambutol 1000 mg / oral, Pyrazinamid
1000 mg / oral
Hasil :
Klien mengatakan tidak ada pusing setelah minum obat, masih
ada mual setelah minum obat.
Memberikan
injeksi : Ranitidin 1 ampul / iv
Hasil :
Klien tidak mengeluh nyeri
dan pusing setelah disuntik, klien mengatakan mual sudah berkurang
Memberikan
injeksi : Dexametason 1 ampul / iv
Hasil :
Klien
tidak mengeluh pusing dan nyeri pada daerah obat injeksi dimasukan
Mengkaji ulang tingkat
ketergantungan klien terhadap orang lain.
Hasil :
Klien mengatakan mau
mencoba menggosok gigi nya sendiri.
Melakukan oral hygiene secara mandiri
dengan bantuan minimal dari perawat
Hasil :
Klien mampu melakukan oral
hygiene sendiri yang difasilitasi oleh perawat. klien mengatakan mulutnya
terasa segar, gigi dan mulut klien tampak bersih.
Memberikan reward saat klien mampu melakukan
ADL sesuai dengan kemampuannya.
Hasil :
Klien terlihat senang dan
tersenyum ketika diberikan pujian.
Mencuci
rambut klien di atas tempat tidur
Hasil :
Klien
mengatakan segar, rambut klien tampak
bersih dan rapi.
Memberikan penjelasan tentang penyebab mual
dan nafsu makan berkurang.
Hasil :
Klien memahami tentang
penyebab mual, klien mengatakan mual terutama dirasakan setelah minum obat
tablet
Menyajikan makan siang untuk klien masih
dalam keadaan hangat
Hasil :
Klien menghabiskan makanan
3/4 porsi, klien mengatakan mual sudah berkurang
Melibatkan klien dalam penyusunan menu makanan sesuai dengan selera.
Hasil :
Klien menanyakan selain
makan makanan yang diberikan dari RS klien mau makanan dari luar seperti
biskuit.
Mengkaji ulang pengetahuan klien
tentangpenyakitnya.
Hasil :
Klien mengatakan
penyakitnya saat ini adalah infeksi syaraf, tapi tidak tau nama penyakitnya
dan tidak tahu cara program perawatan dan pengobatannya.
Memberikan penkes pada klien tentang
penyakit dan program pengobatannya dihubungkan dengan perawatannya, meliputi
:
§ Pengertian
§ Cara perawatan dan diet
§ Program pengobatan
§ Efek samping obat
§ Dampak jika pengobatan tidak tuntas
Hasil :
Klien mengatakan sekarang
tahu jika penyakitnya adalah TBC yang dapat menular, dan mengatakan mau
berobat hingga tuntas, klien juga mengatakan akan memaksakan makan walaupun
mual, takut penyakitnya tidak sembuh.
Melibatkan suami klien
untuk menjadi support sistem bagi klien dan menjadi PMO
Hasil :
Suami mengatakan siap
untuk mendampingi klien berobat dan ikut bertanggung jawab selama klien minum
obat.
Melakukan pengkajian
terhadap adanya tanda dan gejala infeksi traktus urinarius.
Hasil :
Klien mengatakan tidak
terdapat nyeri pinggang, nyeri dan panas dirasakan setelah perasaan ingin
BAK. Warna urine kuning tua dan jernih, kateter bersih.
Melakukan kolaborasi untuk pelepasan dower kateter.
Hasil :
Kepala ruangan mengatakan
klien sudah layak dibuka kateternya tapi sebelumnya harus dilakukan blast
training terlebih dahulu.
|
4.
EVALUASI
NO
|
Tanggal
|
No DP
|
Catatan Perkembangan
|
Paraf
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
10-8-2005
|
1
|
S :
-
Klien
mengatakan tidak terdapat nyeri kepala, sendi pada siku tangan kiri masih
bengkak dan nyeri.
O :
-
Kesadaran
klien kompos mentis/alert
-
Tanda
iritasi meningen : lasegue masih +
-
Tensi
110/70, N: 88 x / mnt, S:37oC, R: 24 x / mnt
-
Sendi
siku klien tampak bengkak.
A :
-
Proses
infeksi pada SSP menunjukan perbaikan
P :
-
Melanjutkan
intervensi meliputi:
-
Lanjutkan
program terapi dengan OAT
-
Kaji
efek samping pengobatan
I :
-
Memberikan
OAT sesuai dengan program terapi yaitu: INH 400mg/oral, Rifampicin
450mg/oral, dan Vit.B6 diberikan sebelum makan. Ethambutol 1000mg/oral,
Pyrazinamid 1000mg/oral dan Curcuma diberikan 1jam setelah makan pagi.
Memberikan injeksi Dexametason 1 amp/iv. Mengkaji efek samping dari pemberian
obat.
E :
-
Klien
mau minum obat, efek samping OAT terhadap fungsi hati, hasil SGPT tanggal
9-8-2005 : 327 U/L
R :
-
Kolaborasikan
dengan dokter untuk pemberian obat OAT yang lebih aman.
Hasil :
-
Program
terapi klien dirubah
-
INH,
Rifampisin, Pyrazinamid di stopn diganti dengan Streptomisin 750mg / im,
Ciprofloksasin 2x500mg/hari.
|
|
2
|
10-8-2005
|
6
|
S :
-
Klien
mengatakan penyakit klien adalah TBC yang menyerang otak, paru-paru dan tulang
dan bisa menular.
-
Klien
mengatakan pengobatannya harus rutin sampai tuntas, karena kumannya akan
kebal dan lebih susah diobatinya lagi.
-
Klien
mengatakan pengobatan penyakitnya tidak hanya menggunakan obat tapi harus
dengan daya tahan tubuh yang kuat dengan cara makan yang banyak mengandung
protein dan zat tenaga seperti telur, ikan, tempe, nasi. Klien juga
mengatakan efek samping dari obatnya bisa membuat mual, sakit kepala,
gangguan hati. Suami klien mengatakan siap untuk mengantar klien berobat dan
mendampingi minum obat.
O :
-
Klien
terlihat mau minum obat yang disiapkan oleh suaminya.
A :
-
Masalah
teratasi
|
|
3
|
10-8-2005
|
2
|
S :
-
Klien
mengatakan mual berkurang, nafsu makan mulai meningkat.
O :
-
Klien
menghabiskan lebih dari 3/4 porsi makanan dari RS, klien tidak terlihat akan
muntah saat makan
A :
-
Asupan
nutrisi klien berangsur-angsur meningkat
P :
-
Melanjutkan
intevensi sesuai dengan yang direncanakan yaitu:
-
Sajikan
makanan dalam keadaan hangat dan menarik.
-
Libatkan
klien dalam penyusunan menu makanan sesuai dengan selera.
-
Lakukan
oral hygiene
-
Berikan
minum air hangat sebelum makan.
-
Berikan
makan minimal 1 jam setelah minum OAT.
-
Lanjutkan
pemberian terapi anti emetik : Ranitidin
I :
-
Menyajikan
makanana klien ketika masih hangat
-
Memberikan
minum air hangat sebelum makan
-
Memberikan
makan siang klien setelah minum OAT
-
Mendamping
klien saat makan
-
Melanjutkan
program terapi anti emetik
E :
-
Mual
sudah tidak dirasakan lagi oleh klien
-
Nafsu
makan klien meningkat
-
Klien
menghabiskan makan 1porsi
|
|
4
|
10-8-2005
|
3
|
S :
-
Klien
mengatakan lebih segar, rambut tidak lengket, klien sudah menggosok giginya
sendiri tadi pagi dibantu suami.
O :
-
Rambut
klien tampak bersih, rapi, dan tidak lengket.
-
Gigi
dan mulut klien terlihat bersih
-
Kulit
klien terlihat bersih dan tidak lengket
A :
-
Masalah
teratasi
|
|
5
|
10-8-2005
|
4
|
S :
-
Klien
mengatakan nyeri masih ada terutama jika sendi yang bengkak ikut bergerak,
klien mengatakan sekarang mampu menahan nyeri, klien mengatakan jika nyeri
muncul klien menarik nafas panjang dan
ngobrol dengan suaminya nyerinya berkurang.
O :
-
Skala
nyeri 2 (0-5)
-
Klien
mau menggerakan tangan yang sakit dibantu tangan kanannya, klien tampak menggerakan sendi pergelangan tangan
dan jari-jari tangan kiri. Klien tampak lebih beradaptasi dengan nyeri
A :
-
masalah
teratasi
|
|
6
|
10-8-2005
|
5
|
S :
-
Klien
mengatakan nyeri dan panas kencing masih ada
-
Klien
mengatakan selangnya ingin dicabut
O :
-
Dauer
kateter masih terpasang, urine warna kuning,jernih. Klien tampak meringis
jika kateter digerakan.
A :
-
Masalah
belum teratasi
P :
-
Lanjutkan
blast trainning
I :
-
Melanjutkan
blast trainning sebelum mencabut kateter
Mencabut dower kateter
-
E :
-
Klien
mengatakan setelah dicabut kateter lebih nyaman, nyeri dan panas setelah BAK
tidak ada.
R :
S: klien mengatakan setelah dicabut
selang lebih nyaman, nyeri dan panas setelah BAK tidak ada.
O: kateter sudahdi lepas, tidak terlihat
tanda-tanda iritasi saat mencabut kateter.
A : Masalah klien teratasi
setelah dicabut kateter
|
|
7
|
10-8-2005
|
7
|
S :
-
Klien
mengatakan merasa kehilangan perannya selama sakit, terutama peran sebagai
ibu rumah tangga yaitu mengurus anak-anaknya
-
Klien
mengatakan sering menangis jika ingat anak-anaknya
-
Klien
mengatakan ingin segera sembuh dan
bisa berkumpul lagi dengan anak-anaknya.
O :
-
Klien
dirawat sejak tanggal 27 Juli 2005
A :
-
Gangguan
konsep diri : peran berhubungan dengan hospitalisasi
P :
-
Jelaskan
pada klien tentang keadaan klien saat ini
-
Gali
keinginan klien saat ini
-
Diskusikan
dengan klien tentang peran yang dapat dilakukan selama klien dirawat di RS.
-
Jelaskan
pada klien bahwa RS adalah tempat tinggal klien sementara.
-
Libatkan
keluarga dalam masalah yang dihadapi klien.
I :
-
Menjelaskan
pada klien tentang keadaannya saat ini
-
Menggali
keinginan klien saat ini
-
mendiskusikan
dengan klien tentang peran yang dapat dilakukan di RS
-
Menjelaskan
pada klien bahwa di RS klien hanya sementara
-
Melibatkan
suaminya dalam menyelesaikan masalah klien
E :
-
Klien
mengatakan mengerti tujuan dari perawatan di RS untuk mengobati penyakitnya,
klien ingin segera sembuh dari penyakitnya, kliem mengerti alasan anaknya
tidak boleh dibawa ke RS karena takut tertular.
|
|
8
|
11-8-2005
|
1
|
S :
-
Klien
mengatakan tidak ada demam, nyeri kepala
O :
-
Kesadaran
klien kompos mentis, tanda vital dalam batas normal TD 110/80mmHg, N: 84 x /
menit, R: 20 kali/menit, tanda iritasi meningen lasegue +
A :
-
Infeksi
pada SSP berangsur membaik
P :
-
Melanjutkan
pemberian obat sesuai program
I :
-
Memberikan
obat Ethambutol 1000mg, Curcuma 1tablet/oral, Ciprofloxasin 500 mg /
oral sesudah makan, memberikan injeksi
Dexametason 1 ampul / iv, melakukakan skin test obat Streptomisin, memberikan
injeksi streptomisin 750mg / im.
E :
-
Klien
tidak menunjukan tanda-tanda alergi seperti gatal-gatal setelah diberikan
obat.
|
|
9
|
11-8-2005
|
2
|
S :
-
Klien
sudah tidak mengeluh mual, nafsu makan meningkat.
O :
-
Porsi
makan klien selalu habis, klien terlihat suka makan biskuit yang dibawa dari
keluarganya.
A :
-
Masalah
teratasi
|
|
10
|
12-8-2005
|
1
|
S :
-
Klien
mengatakan saat ini
O :
-
Tanda
vital dalam batas normal
-
TD:
120/80 N: 88 x / menit S: 36,9oC R: 24 x / menit
-
Tidak
terdapat tanda-tanda peningkatan TIK
-
Tingkat
kesadaran klien kompos mentis
-
Tanda
iritasi meningen: lasegue (-), brudzinski I,II (-), kernig (-), kaku kuduk
(-)
A :
-
Masalah
teratasi sesuai tupen
|
B. PEMBAHASAN
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Ny. A dengan gangguan sistem
persarafan akibat meningitis tuberkulosis di ruang 19 A Perawatan Penyakit
Saraf Wanita Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Selanjutnya penulis
melakukan pembahasan. Dalam pembahasan ini penulis berpedoman dengan melihat
perbandingan antara teori dan kasus yang terdapat pada BAB II dan BAB III,
untuk selengkapnya diuraikan di bawah ini.
1. Pengkajian
a.
Pengumpulan Data
1)
Identitas Klien dan Penanggung Jawab
Menurut
konsep teori pentingnya mengkaji identitas pada klien dengan gangguan sistem
persarafan : meningitis tuberkulosis, yang berhubungan dan mendukung
diagnosanya antara lain usia, pendidikan dan pekerjaan, karena penyakit
meningitis tuberkulosis ini umumnya menyerang pada semua tingkat usia, tersering
pada anak-anak dan usia produktif. Pekerjaan klien dan atau penanggung
jawab dapat menggambarkan status ekonomi keluarga yang umumnya tergolong ekonomi rendah, sementara
pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan
klien dan keluarga tentang penyakit meningitis.
Pada kasus
ini klien Ny. A berusia 27 tahun, pekerjaan klien sebagai karyawan pabrik
garmen, dengan pendidikan SMP, sedangkan suami klien selaku penanggung jawab
klien tidak bekerja. Apabila data di atas dihubungkan dengan penyaki klien
sangat relevan, sebagai faktor resikonya adalah status ekonomi rendah dan
didukung oleh faktor pendidikan yang rendah. Dengan faktor ekonomi yang rendah
kemampuan klien dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan akan rendah pula,
maka diperkirakan status gizi klien kurang yang akan berdampak pada penurunan
daya tahan tubuh klien sehingga rentan terhadap berbagai penyakit infeksi salah
satunya adalah penyakit tuberkulosis (TB). Rendahnya pengetahuan klien akan
berdampak pada kemampuan klien mengenal masalah kesehatannya, akibatnya infeksi
tuberkulosis yang terabaikan menimbulkan komplikasi keberbagai jaringan tubuh
lainnya seperti tulang dan otak. Selain itu faktor sanitasi tempat tinggal
klien yang berukuran 24m2 di lingkungan yang padat, selain itu klien
bekerja di garmen dalam satu ruangan dengan pekerja lain serta lingkungan kerja
yang penuh debu mendukung pula terjadinya penyakit infeksi tuberkulosis.
2)
Riwayat Kesehatan
Keluhan utama yang mungkin
terjadi pada klien dengan meningitis menurut teori adalah demam, nyeri kepala
yang berat, diikuti oleh penurunan kesadaran dan kejang. Pada kasus Ny. A
keluhan pada saat masuk rumah sakit sesuai dengan teori, namun ketika dilakukan
pengkajian keluhan nyeri kepala, muntah yang proyektil, penurunan kesadaran dan
demam tidak ditemukan. Ini terjadi karena pada saat dilakukan pengkajian klien
telah mendapatkan pengobatan dan perawatan selama 12 hari sehingga perjalanan
penyakit klien menunjukan perbaikan. Sedangkan keluhan utama pada Ny. A saat
dilakukan pengkajian adalah nyeri pada siku tangan sebelah kiri dengan skala
nyeri 3 (0-5) disertai pembengkakan, yang disebabkan oleh artritis tuberkulosis
hal ini karena sudah terjadi penyebaran infeksi tuberkulosis pada tulang.
Pada tinjauan teori dikatakan
riwayat kesehatan dahulu yang berhubungan dengan meningitis adalah adanya
riwayat infeksi saluran nafas atas, mastoiditis, otitis media, trauma kepala,
dan penyakit sistemik lain seperti demam tifoid, khusus pada meningitis tuberkulosis
didapatkan riwayat kontak dengan penderita penyakit tuberkulosis atau riwayat
sakit TBC. Pada kasus klien Ny. A riwayat sakit TBC dan kontak dengan penderita
TBC disangkal oleh klien, namun didapatkan informasi dari klien adanya riwayat
berkeringat malam sejak 2 tahun yang lalu, riwayat demam menjelang dibawa ke
rumah sakit dan penurunan berat badan. Perbedaan ini terjadi karena penyakit
tidak dirasakan oleh klien.
Dalam riwayat penyakit
keluarga yang berhubungan dengan meningitis adalah adanya anggota keluarga yang
memiliki penyakit TBC, karena TBC merupakan penyakit infeksi menular dan umumnya
kontak lama dengan penderita sebagai penyebab meningitis tuberkulosis. Namun
pada kasus Ny. A klien dan keluarga menyangkal adanya penderita TBC di keluarganya.
Tetapi mungkin saja keluarga tidak menyadari adanya anggota keluarga lain yang
menderita penyakit TBC, karena tidak pernah melakukan check-up kesehatan atau klien mendapatkan penularan penyakit
tuberkulosis dari orang lain di luar lingkungan rumahnya seperti tempat kerja.
Apabila melihat tingkat pendidikan klien dan status ekonomi yang rendah mungkin
mempengaruhi klien dalam menggambarkan konsep sehat-sakit, terbukti klien masuk
rumah sakit setelah terjadi komplikasi.
3)
Pemeriksaan Fisik
a)
Sistem pernafasan
Pada konsep meningitis umumnya terjadi perubahan pola nafas cepat dan
dangkal, penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, adanya pernafasan cuping
hidung, retraksi dada positif, adanya batuk berdahak dan ronkhi positif. Pada
klien Ny. A semuanya tidak ditemukan kecuali adanya ronkhi pada kedua lapang
paru sebagai manifestasi tuberkulosis paru millier, hal ini karena proses
infeksi tuberkulosis SSP pada klien Ny. A telah mengalami perbaikan sehingga
eksudat sebagai hasil dari proses peradangan tidak menekan pada medulla
oblongata sebagai pusat pengatur pernafasan.
b)
Sistem kardiovaskuler
Secara teori pada kasus meningitis biasanya didapatkan adanya peningkatan
atau penurunan tekanan darah, nadi lemah yang berlanjut dengan akral dingin,
adanya sianosis serta capillary refil
time lebih dari 3 detik. Pada kasus klien Ny. A tidak ditemukan penigkatan
atau penurunan tekanan darah, volume nadi, maupun sianosis. Dampak di atas
biasanya terjadi pada klien meningitis grade III dengan tanda-tanda syok,
sedangkan klien masuk ke rumah sakit pada grade II dan tidak berlanjut pada
grade III setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan selama 12 hari.
c)
Sistem pencernaan
Pada sistem pencernaan secara konseptual ditemukan keluhan gangguan refleks
menelan akibat kerusakan atau kompresi pada nervus vagus, mual akibat
peningkatan kadar HCl, muntah proyektil akibat peningkatan tekanan
intrakranial. Pada kasus klien Ny. A ditemukan adanya mual dan nafsu makan
menurun, keluhan ini lebih diakibatkan karena efek samping dari pengobatan.
d)
Sistem perkemihan
Secara konsep meningitis akan berdampak pada sistem urinaria, yaitu terjadi
retensi urine atau inkontinensia urine, pada kondisi lebih lanjut akan terjadi
albuminuria karena proses katabolisme terutama jika dalam kondisi kaheksia.
Pada kasus klien Ny. A tidak terjadi retensi urine maupun inkontinensia, karena
klien terpasang dower kateter sehingga keluhan retensi dan inkontinensia urine
tidak dapat di kaji, dan tidak didapatkan albuminuria.
e)
Sistem muskuloskeletal
Pada konsep disebutkan terjadi kelemahan otot, akibat kerusakan
neuromuskuler yang akan berdampak pada kelemahan fisik secara umum. Pada kasus
klien Ny. A ditemukan adanya kelemahan otot pada ekstremitas atas kiri, selain
itu terdapat nyeri pada sendi siku tangan sebelah kiri yang disebabkan adanya
proses peradangan akibat penyebaran penyakit pada tulang (artritis
tuberkulosis).
f)
Sistem integumen
Secara konsep pada klien meningitis terdapat peningkatan suhu tubuh dan
kerusakan integritas kulit akibat tirah baring yang lama, namun pada kasus
klien Ny. A tidak ditemukan peningkatan suhu tubuh hal ini dikarenakan klien
sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan sehingga proses infeksi sistemik
yang dimanisfestasikan dengan hipertermia tidak muncul, sedangkan gangguan
integritas kulit klien akibat tirah baring lama tidak terjadi karena klien
sering melakukan mobilisasi dengan cara merubah posisi tidur miring kekiri dan
kekanan.
g)
Sistem persarafan
Pada sistem persarafan klien meningitis biasanya
mengeluhkan adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran, tanda-tanda iritasi
meningen seperti kaku kuduk, brudzinski I-II, kernig dan laseque, kerusakan
nervus kranial II, III, IV, VI,VII, VII. Pada kasus klien Ny. A tanda iritasi
meningen yang masih ada yaitu tanda laseque, dan kelumpuhan pada nervus VI
sementara tanda yang lainnya tidak ditemukan. Ini terjadi karena pada saat
pengkajian klien sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan selama 12 hari,
sehingga proses infeksi pada sistem saraf pusat sudah mengalami perbaikan. Akan
tetapi pada riwayat kesehatan sekarang ditemukan adanya tanda-tanda diatas
seperti nyeri kepala, kaku kuduk, Brudzinski I-II, laseque, kernig dan
penurunan kesadaran.
4)
Pola Aktifitas Sehari-hari
(a)
Nutrisi
Pada penyakit meningitis tuberkulosis secara konsep dapat terjadi perubahan
dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi yang disebabkan karena stimulasi nervus vagus
sehingga klien mengalami kesulitan dalam menelan, mual, muntah, nafsu makan
menurun. Selain itu pada klien meningitis dengan kesadaran yang menurun
merupakan indikasi pemasangan naso gastrik tube (NGT) sehingga terjadi
perubahan pola dalam pemenuhan nutrisi. Pada kasus klien Ny. A saat dilakukan
pengkajian tidak terdapat kesulitan menelan, muntah proyektil, pemasangan NGT.
Adanya keluhan nafsu makan berkurang dan mual lebih disebabkan akibat efek
samping dari pengobatan obat anti tuberkulosis (OAT), dibuktika dengan klien
merasa mualnya bertambah setelah minum obat anti tuberkulosis.
(b)
Eliminasi
Menurut konsep pada klien dengan infeksi meningitis dapat terjadi retensi atau
inkontinensia urine. Penulis tidak menemukan adanya gejala tersebut karena
klien terpasang dower kateter sehingga gelala retensi dan inkontinensia sulit
dipantau.
Pada eliminasi BAB dapat ditemukan adanya konstipasi akibat tirah baring
yang lama berdasarkan konsep teori, namun tidak ditemukan pada kasus klien Ny.
A. Ini terjadi karena klien sering melakukan mobilisasi ditempat tidur, dan
konsumsi nutrusi klien saat ini cukup mengandung serat.
(c)
Istirahat tidur
Berdasarkan teori pada klien dengan meningitis dapat terjadi gangguan tidur
akibat adanya nyeri kepala dan sesak nafas sebagai mecanoreseptor pada reticular
activating system (RAS). Pada kasus klien Ny. A tidak ditemukan adanya
keluhan gangguan tidur karena keluhan nyeri kepala dan sesak nafas tidak dirasakan
oleh klien.
(d) Personal hygiene
Pada klien dengan meningitis umumnya terjadi penurunan kesadaran dan atau
terdapat defisit neurologik fokal seperti hemiplegi, hemiparese, pada
ekstremitas yang dapat mengganggu pergerakan klien sehingga klien tidak mampu
memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri. Kasus klien Ny. A ditemukan
adanya gangguan pemenuhan kebutuhan personal
hygiene namun bukan akibat penurunan kesadaran tetapi disebabkan oleh nyeri
dan kelemahan pada lengan kiri akibat artritis tuberkulosis dan ketakutan klien
untuk melakukan ADL.
5)
Aspek Psikologis
Pada kasus klien Ny. A ditemukan adanya gangguan
konsep diri peran karena klien dirawat sudah cukup lama sementara klien
memiliki anak yang berusia 8 bulan.
6)
Aspek Spiritual Dan Sosial
Menurut teori pada klien meningitis dapat
mempengaruhi aspek sosial dan spiritual klien seperti tidak tanggap terhadap
aktifitas lingkungan sekitar dan sering kali tidak menerima keadaannya, serta
harapan sembuh yang kurang. Pada kasus Ny. A tidak didapatkan gejala-gejala
diatas, klien dapat bersosialisasi dengan baik diruangan, klien juga masih
memiliki harapan kesembuhan yang tinggi, hal ini karena dukungan dari suami (support system) dan koping klien diterganggu
karena klien tampak sudah menerima keadaan sakitnya.
7)
Data Penunjang
Secara teotitis data penunjang yang biasa ditemukan pada klien dengan
meningitis adalah sebagai berikut :
a)
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat
leukosit yang meningkat
b)
Pemeriksaan lumbal punksi ditemukan
adanya peningkatan jumlah sel, peningkatan protein,dan penurunan kadar gula LCS.
c)
Pada thorak foto ditemukan adanya
infeksi saluran pernapasan
d)
Pada pemeriksaan CT-Scan terdapat
kelainan otak
Pada klien Ny. A tidak ditemukan peningkatan
leukosit, foto thorak ditemukan adanya infeksi TBC millier, pemeriksaaan lumbal
punksi ditemukan adanya penigkatan kadar protein, jumlah sel , dan penurunan
glukosa liquor.
b.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan konsep yang ada kemungkinan diagnosa yang muncul pada klien
dengan meningitis adalah :
1)
Ketidak efektifan pola nafas berhubungan
dengan penurunan tingkat kesadaran.
2)
Gangguan keseimbangan suhu tubuh,
hiperthermi berhubungan dengan proses inflamasi.
3)
Resiko terjadinya gangguan integritas
kulit berhubungan dengan tirah baring lama.
4)
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan
dengan keterbatasan gerak akibat kelemahan atau kerusakan neuromuskuler.
5) Gangguan rasa aman: cemas keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit dan penatalaksanaan akhir dirumah.
6) Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman
patogen secara hematogen.
7) Gangguan kebutuhan nutrisi
berhubungan dengan penurunan kesadaran.
8) Resiko tinggi terhadap injuri/trauma berhubungan dengan adanya kejang akibat
iritasi kortek serebral.
9) Resiko tinggi kekurangan
volume cairan: dehidrasi
berhubungan dengan kehilangan cairan, penurunan masukan oral dan
peningkatan suhu tubuh.
Pada kasus Ny. A penulis menemukan tujuh diagnosa keperawatan, dua
diantaranya sesuai dengan teori, yaitu :
1)
Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan
dengan masuk dan aktifnya mikroorganisme dalam tubuh.
2)
Gangguan asupan nutrisi: kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan mual dan anoreksia.
Diagnosa yang tidak sesuai dengan konsep rencana asuhan keperawatan pada klien
meningitis adalah :
1)
Gangguan pemenuhan ADL : personal
hygiene berhubungan dengan keterbatasan aktifitas akibat nyeri dan kelemahan
fisik.
2)
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan
dengan adanya proses peradangan pada tulang.
3)
Resiko infeksi traktus
urinarius berhubungan dengan terpasangnya dower kateter sebagai portal of entry bagi mikro organisme.
4)
Resiko drop out pengobatan berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan klien tentang perawatan dan aturan pengobatan
penyakitnya.
5)
Gangguan konsep diri : peran berhubungan
dengan hospitalisasi
Diagnosa keperawatan pada kasus Ny. A yang tidak diangkat
berdasarkan teori yaitu:
1)
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan
dengan penurunan tingkat kesadaran. Karena pada saat pengkajian kesadaran klien
dalam keadaan kompos mentis, dan tidak didapatkan akumulasi sekret sehingga
tidak ditemukan adanya gangguan pola nafas.
2)
Gangguan keseimbangan suhu tubuh, hipertermi
berhubungan dengan proses inflamasi. Tidak diangkat karena pada klien Ny. A
saat dilakukan pengkajian tidak terdapat peningkatan suhu tubuh.
3)
Resiko terjadinya gangguan integritas
kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Tidak diangkat karena pada saat
dikaji klien tidak terdapat tanda-tanda gangguan integritas kulit, walaupun klien
aktifitasnya di tempat tidur klien sering merubah posisi nya sendiri.
4)
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan
dengan keterbatasan gerak akibat kelemahan atau kerusakan neuromuskuler. Pada
klien Ny. A tidak diangkat karena sudah tercakup dalam diagnosa gangguan ADL.
5) Gangguan rasa aman: cemas keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit dan penatalaksanaan akhir dirumah. Tidak diangkat
karena klien tidak terdapat data yang mengarah pada kecemasan karena ketidaktahuan
terhadap penyakitnya, penulis mengangkat ketidak tahuan terhadap penyakitnya
pada diagnosa resiko drop out pengobatan.
6) Resiko tinggi terhadap injuri/trauma berhubungan dengan adanya kejang akibat iritasi kortek serebral. Tidak diangkat
karena klien tidak mengalami kejang maupun penurunan kesadaran.
7) Resiko tinggi kekurangan
volume cairan: dehidrasi
berhubungan dengan kehilangan cairan, penurunan masukan oral dan
peningkatan suhu tubuh. Tidak diangkat karena
klien dapat minum melalui oral, dan mendapatkan masukan cairan melalui intra
vena. Selain itu klien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh dan
hiperventilasi.
2. Perencanaan
Pada tahap ini penulis menyusun rencana tindakan untuk memecahkan
masalah yang ada disesuaikan dengan kemampuan, situasi, dan kondisi dasar
temuan dilapangan dengan tetap mengacu pada konsep teori perencanaan.
Perencanaan yang disusun oleh penulis adalah sebagai
berikut:
a.
Pada diagnosa keperawatan yang pertama
penulis menetapkan rencana tindakan agar klien dilakukan isolasi untuk mencegah
penularan terhadap klien lain. Selain itu klien dianjurkan untuk menggunakan
masker namun karena keterbatasan sarana klien hanya menutup mulut saat klien batuk. Untuk mencegah
penyebaran infeksi pada organ lain klien dianjurkan untuk minum obat secara
teratur.
b.
Diagnosa keperawatan yang ke-2 penulis
menetapkan tujuan jangka pendek yaitu agar asupan nutrisi klien sesuai dengan
kebutuhan, dengan cara menghilangkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab
serta membantu meningkatkan nafsu makan klien dengan melakukan oral hygiene dan
modifikasi teknik penyajian. Sehingga rencana tujuan dapat dicapai dalam waktu 4
hari dengan indikator keberhasilan klien dapat menghabiskan porsi makan yang
telah ditetapkan.
c.
Pada diagnosa keperawatan ke-3 penulis
menetapkan tujuan agar kebutuhan ADL klien terpenuhi, dengan mengoptimalkan
kemampuan klien. Sehingga perawat hanya memfasilitasi klien dalam memenuhi
kebutuhan ADL-nya dan menolong klien sebatas ketidakmampuannya. Adapun kriteria
waktunya penulis menetapkan satu hari, karena setelah intervensi masalah klien
teratasi sesuai tujuan jangka pendek.
d.
Penetapan tujuan jangka pendek pada
diagnosa yang ke-4 lebih ditekankan pada kemampuan klien beradaptasi dengan
nyeri, bukan menghilangkan nyeri karena nyeri yang dirasakan klien bersifat
kronis. Penetapan waktu 5 hari karena tujuan penulis tidak menghilangkan nyeri
tetapi mengadaptasikan klien dengan nyeri.
e.
Tujuan pada diagnosa keperawatan ke-5
agar tidak terjadi infeksi traktus urinarius, penulis menetapkan tindakan yang
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien. Merencanakan pengangkatan dower
kateter karena klien sudah sadar dan dapat mengontrol keinginan miksi sekaligus
menghilangkan portal of entry bagi
mikro organisme, sehingga penulis menentukan pecapaian tujuan dalam waktu 2
hari untuk blast training yang dilanjutkan dengan pengangkatan dower kateter.
f.
Pada diagnosa keperawatan yang ke-6
tujuan jangka pendek penulis agar pengetahuan klien bertambah, diharapkan klien
mengerti tentang penyakit, perawatan dan pengobatannya sehingga klien dengan
kesadaran sendiri menghindari drop out selama program pengobatan, selain itu
melibatkan keluarga sebagai support
system bagi klien. Penulis dalam diagnosa keperawatan ini menetapkan
kriteria waktu 1 hari karena tujuan jangka pendeknya adalah menekankan pada
perubahan aspek kognitifnya.
g.
Tujuan jangka pendek pada diagnosa
keperawatan yang ke-7 yaitu agar klien mengerti tentang maksud dan tujuan dari
perawatan klien di rumah sakit, dengan harapan klien dapat beradaptasi terhadap
perubahan peran yang dialaminya. Penulis menetapkan kriteria waktu hanya satu
hari, karena ini dapat di atasi dengan komunikasi terapeutik sehingga klien
mengerti maksud dan tujuan hospitalisasi.
3. Pelaksanaan
Tahap pelaksaanaan adalah tindak lanjut dari perencanaan
keperawatan. Dalam merawat klien dengan resiko penyebaran infeksi seharusnya
klien dilakukan isolasi, hal ini tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat
fasilitas di ruangan.
Pada masalah pemenuhan kebutuhan ADL klien, penulis
melakukan intervensi dengan pendekatan konsep keperawatan dari Orem, dimana
klien diberikan kesempatan untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan perawaaat
memberikan bantuan sesuai dengan tingkat ketergantungan klien.
4. Evaluasi
Pada saat melakukan evaluasi akhir, dari tujuh masalah
yang diangkat semua dapat diselesaikan sesuai dengan kriteria tujuan jangka
pendek karena perawatan dan pengobatan yang diberikan kepada klien adekuat
serta didukung oleh motivasi yang kuat dari klien dan keluarga.
BAB IV
KESIMPULAN DAN
REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada
Ny. A dengan gangguan sistem persarafan akibat meningitis tuberkulosis di ruang
19 A perawatan penyakit saraf wanita Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin
Bandung yang dilaksanakan selama 5 hari mulai tanggal 08 Agustus sampai dengan
tanggal 12 Agustus 2005 dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, maka penulis
dapat mengambil kesimpulan dari setiap
tahap proses keperawatan sebagai berikut:
1.
Pengkajian
Pada
klien dengan gangguan sistem persarafan : meningitis tuberkulosis perlu
dilakukan secara menyeluruh walaupun keadaan umum klien sudah membaik, karena
diagnosa keperawatan tidak tergantung pada diagnosa medik. Klien yang secara
klinis menunjukan perbaikan tidak menutup kemungkinan masalah keperawatan yang
muncul diluar rencana asuhan keperawatan menurut konsep akan lebih kompleks,
karena keunikan individu dalam merespon perubahan fungsi tubuhnya. Selain itu
ada beberapa diagnosa keperawatan yang seharusnya tidak perlu muncul apabila
klien mendapatkan informasi yang jelas dan benar tentang penyakit, cara
perawatan dan pengobatannya.
2.
Perencanaan
Dalam
menyusun rencana keperawatan yang diberikan pada klien dengan gangguan sistem
persarafan harus disesuai dengan kemampuan, kondisi dan sarana yang ada dengan
tetap berorientasi pada masalah klien, agar rencana keperawatan tersebut dapat
dilaksanakan baik oleh perawat maupun oleh klien dan keluarganya, serta dapat
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan dari rencana keperawatan
yang telah disusun oleh penulis hampir seluruhnya dapat dilaksanakan, walaupun
ada beberapa rencana yang tidak dapat dilakukan karena keterbatasan sarana
seperti memisahkan klien pada ruangan tersendiri untuk menghindari adanya
penularan kepada klien lain. Selain itu keadaan klien yang sudah membaik
merupakan faktor pendukung untuk memandirikan klien sesuai dengan kemampuannya,
karena ini akan mengurangi tingkat ketergantungan klien terhadap orang lain
sehingga akan mengurangi perasaan tidak berdaya pada diri klien dan perawat tidak
melakukan tugasnya sebagai rutinitas.
3.
Pelaksanaan
Pada tahapan ini penulis melakukan
tindakan keperawatan kepada klien Ny.A sesuai dengan rencana yang telah dibuat
dengan melibatkan klien dan keluarga secara aktif. Penulis tidak menemukan banyak
hambatan dalam melakukan tindakan keperawatan. Sebagai faktor pendukung
kelancaran pelaksanaan tindakan karena adanya dukungan dari seluruh perawat
ruangan.
Pada pemasangan alat yang
invasif perawat perlu tanggap terhadap
respon klien akibat pemasangan alat tersebut dan disesuaikan dengan indikasi
dan kebutuhan klien sehingga tidak mengurangi kenyamanan klien dan menghindari
dampak negatif dari pamasangan alat tersebut, misalnya pemasangan dower
kateter.
4.
Evaluasi
Masalah-masalah
keperawatan yang terdapat pada klien Ny. A semuanya sudah dapat diatasi sesuai
dengan kriteria evaluasi pada tujuan jangka pendek yang ditetapkan oleh
penulis, tercapainya tujuan ini karena adanya kerjasama dengan klien, keluarga
dan tim kesehatan yang lain.
B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis merekomendasikan beberapa hal
diantaranya :
1.
Perawat ruangan diharapkan memberikan
informasi secepatnya kepada klien setelah diagnosa ditegakkan, mengingat penyakit
klien adalah penyakit menular sehingga resiko penularan penyakit pada orang lain
dapat dicegah sedini mungkin.
2.
Perawat harus cepat tanggap terhadap respon
klien akibat pemasangan alat invasif yang sebetulnya tidak diperlukan lagi
seperti pemasangan dower kateter.
3.
Dalam melakukan tindakan perlu untuk memandirikan
klien sesuai dengan kemampuannya apabila tidak ada kontra indikasi medik untuk
menghindari perasaan tidak berdaya pada diri klien.
4.
Rumah sakit perlu mempertimbangkan
adanya ruang isolasi di ruang 19 A, karena diantara penyakit saraf non bedah
terdapat penyakit menular dan tidak menular.
daftar pustakanya mana? share please
BalasHapus